21 February 2007

Internet Murah di Kamar Kos

(Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 28 Januari 2007)

Internet memang bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat kita. Namun pengguna internet di Indonesia ternyata masih terhitung sedikit. Masih tingginya harga akses internet dan kemampuan daya beli masyarakat, seringkali menjadi alasan masyarakat enggan menggunakan internet untuk aktivitas sehari-hari.

Data dari http://www.internetworldstats.com/ menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 8,1 persen dari jumlah penduduk atau berkisar 18 juta penduduk dari total penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta orang. Padahal akses internet yang merakyat sangat dibutuhkan bukan hanya sekedar untuk sarana berkomunikasi murah dan cepat, tetapi juga alat untuk mencerdaskan bangsa.
Ketersediaan data dan informasi yang baru dan tidak terbatas menjadi salah satu stimulator masyarakat dalam mencari serta membaca berbagai pengetahuan yang disediakan di internet. Bagi pelajar dan mahasiswa, internet dapat menjadi perpustakaan superbesar yang tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Berbagai literatur dan pengetahuan baru muncul, tersedia, dan dapat diakses dalam 24 jam sehari tanpa terikat oleh tempat.
Untuk itu dibutuhkan suatu strategi dalam mencari solusi kebutuhan internet terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Apalagi kebutuhan akan internet di kalangan ini sebetulnya telah ada. Hal ini dapat dilihat dari mulai meningkatkan jumlah dan frekuensi pengakses internet melalui hotspot-hotspot gratis yang di sediakan oleh kampus, serta meningkatnya jumlah warnet di lingkungan kampus.


Kos-Kosan dot Net
Apabila akses internet murah juga disediakan di rumah kos, tentunya mereka akan semakin mudah dalam mengakses informasi yang dibutuhkannya sewaktu-waktu. Jika akses internet dapat dibagi dengan beberapa pengguna, kehadiran akses internet non-stop 24 jam akan menjadi lebih murah dan memadai. Kos-kosan merupakan salah satu contoh tempat yang potensial untuk penerapan konsep ini, yang populer disebut RT/RW Net. Dengan jumlah penghuni yang berkisar 10-15 orang, akses internet dapat dibagi dengan harga yang terjangkau. Terdapat beberapa strategi yang dapat ditempuh dalam pembuatan Kos-Kosan dot Net atau akses internet di kos-kosan.
Yang pertama, dengan melibatkan warung internet di sekitar rumah kos. Dengan biaya tetap per bulan yang sudah disepakati bersama dan tentunya lebih murah dari biaya akses internet yang normal, akses internet akan disalurkan ke kos-kosan yang ada di sekitar warnet. Penyaluran dapat melalui pemilik kos sebagai pengelola jaringan di rumah kos atau secara langsung ke setiap penghuni kos.
Apabila harga akses internet yang ditawarkan mampu diterima oleh kantong pelajar atau mahasiswa yang menghuni rumah kos, tentunya hal ini bukan hanya meringankan penghuni kos yang bisa mengakses internet 24 jam sehari dari kamar kos dengan harga murah, tetapi juga warung internet yang memperoleh kepastian pendapatan setiap bulannya. Alternatif yang kedua, pemilik kos dapat bertindak sebagai penyedia jaringan internet. Dengan bekerjasama dengan salah satu penyedia jasa layanan internet (ISP), akses internet kemudian dibagi ke seluruh penghuni kos sebagai sebuah fasilitas. Fasilitas ini serupa dengan fasilitas televisi atau pendingin ruangan yang umumnya telah ditawarkan sebelumnya.
Apabila biaya tetap akses internet tanpa batas (unlimited) per bulan adalah Rp. 1.500.000, maka biaya ini akan dibagi dengan jumlah penghuni kos. Jika satu rumah kos terdiri dari 15 orang, maka setiap penghuni dapat mengakses internet tanpa batas dengan biaya minimum berkisar Rp. 100.000 - Rp. 150.000 per bulan. Biaya tersebut merupakan biaya akses internet selama 24 jam x 30 hari atau 720 jam per bulan.Apabila selama ini Anda mengakses internet maksimum 1 jam setiap hari dengan biaya Rp. 4.000 per jam, maka total pengeluaran untuk akses internet selama 25 hari juga akan senilai dengan Rp. 100.000 per bulan. Dengan biaya yang sama tersebut, terdapat selisih keuntungan sekitar 23 jam sehari atau total 695 jam sebulan jika Anda mengunakan alternatif di atas.

Kredit Lunak
Alternatif pertama maupun alternatif kedua mempunyai konsekuensi kelebihan dan kekurang yang berbeda-beda. Alternatif pertama menggunakan sumber daya yang telah paham dengan teknologi internet beserta pemecahan masalahnya, namun penentuan harga sangat tergantung dari kebijakan manajemen warung internet.
Sedangkan yang kedua, penentuan harga sangat fleksibel karena diatur oleh pemilik kos sehingga dapat dicari harga yang cocok untuk penghuninya. Namun seringkali pemilik kos sebagai penyedia jaringan internet belum paham dengan seluk beluk akses internet dan permasalahannya. Dibutuhkan waktu untuk belajar memahami pemecahan masalah jika suatu saat muncul.
Usulan penyediaan akses internet murah di kos-kosan, yang juga sempat disampaikan pada seminar Broadband Access di UNDIP pada tanggal 9 Desember yang lalu, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Kandatel Telkom Semarang melalui unit CDC (Community Development Center) atau lebih dikenal sebagai pengelola Program Kemitraan dan Bina Lingkungan menawarkan kredit superlunak untuk mendorong tumbuhnya akses internet dan penggunanya di kalangan masyarakat.
Dengan bunga kredit yang hanya sebesar 3% - 6% per tahun, diharapkan dapat membantu perorangan ataupun badan usaha dalam mempersiapkan perangkat keras yang dibutuhkan untuk mengembangkan akses internet jenis ini di lokasinya saat ini. Bukan hanya pemilik kos semata yang dapat memanfaatkan peluang ini, tetapi juga pemilik warung internet maupun warung telkom yang berada di sekitar rumah kos.
Pelajar dan mahasiswa sebagai penghuni kos tentunya akan banyak terbantu dengan adanya akses internet murah 24 jam di kamar kosnya, sedangkan penyedia akses internet juga ikut senang karena tercipta satu lini bisnis baru yang dapat diharapkan penghasilannya setiap bulan.

5 komentar:

Dennsyah said...

cybercrime dengan begitu gampang terlacak! mendingan di warnet aja jadi tak akan terlacak! eheh...
but thanks infonya itung 2 buat nambah bahan skripsi neh... :p

free-zing said...

di semarang apa bisa internet murah unlimited?
masih jauh kayaknya

free zing said...

sampean koneknya pake apa pak?

deo said...

Baru tau klo taon lalu UNDIP ngebahas hal semacam ini. gw di undip nih. tapi, blm ada implementasi kan om? jgn2 wacana doang, ga ada realisasi --"
Saking ga sabarnya menunggu penyedia jasa net yg murah dan reliable, gw ntar lagi nyoba Speedy. Pdhl koneksi masih unstable.

Ridwan Sanjaya said...

@Dennsyah: hehehe... ini khan untuk mempermudah mahasiswa.. tapi bukan untuk cybercrime. Eh, di warnet siapa bilang tidak bisa terlacak :)

@deo: Sebetulnya Kandatel sudah siap koq... Malah Kandatel Yogya sudah akan merealisasikan...
Tinggal mengompori ibu kos untuk apply ke Kandatel...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...