02 January 2018

Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional, 2 Januari 2018)

SM-2_01_2018-Self-Disruption-Perpusatakaan-perguruan-Tinggi

“Pengelola perpustakaan dituntut melakukan self-disruption untuk dapat mempertahankan posisinya sebagai paru-paru pengetahuan di perguruan tinggi”

DALAM beberapa tahun terakhir ini istilah Disruptive Innovation menjadi semakin populer sejak kemunculan transportasi online, penginapan online, tiket online, dan bisnis-bisnis online sejenisnya. Meskipun istilah ini sudah mulai dikenalkan pada tahun 1995 dalam Harvard Business Review (Bower & Christensen, 1995) dan dipublikasikan dalam buku The Innovatorís Dilemma dua tahun kemudian (Christensen, 1997), pembahasan mengenai teori ini secara meluas baru muncul akhir-akhir ini.

Dalam bukunya, Christensen menekankan bahwa produk dalam kelompok disruptive innovation umumnya lebih murah, lebih sederhana, lebih kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Produk tersebut awalnya menyasar pada kelompok kecil pengguna, namun akhirnya dapat menggantikan produk yang dikembangkan oleh pemimpin pasar setelah mengalami berbagai peningkatan kualitas dan penyesuaian kebutuhan.

Namun Christensen menekankan bahwa peningkatan performa secara berkelanjutan yang umumnya dilakukan oleh pemimpin pasar pada suatu produk, bukanlah disruptive innovation melainkan sustaining innovation. Sebagai incumbent, inovasi yang bertahap seringkali tidak cukup lagi untuk menghadapi perubahan radikal yang terjadi saat ini. Dibutuhkan kemauan untuk self-disruption agar sebuah organisasi dapat bertahan.

Contoh dalam dunia pendidikan, perpustakaan di perguruan tinggi seringkali menghadapi kenyataan pahit bahwa jumlah mahasiswa dan dosen yang berkunjung ke perpustakaan semakin lama semakin menurun. Bahkan di beberapa perguruan tinggi, beberapa pustakawan beralih divisi karena kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di perpustakaan tidak lagi setinggi yang dulu.