09 March 2021

Pentingnya Pendidikan Karakter Zaman Digital

(Kompas, Opini 8 Maret 2021)


Perlu ada literasi digital agar masyarakat semakin mampu mengolah informasi dengan benar dan berperilaku sopan. Jangan sampai karena ketidakmampuannya tersebut, membuat seluruh pengguna Indonesia dinilai tidak beradab.

Meskipun sejatinya istilah netizen atau dalam KBBI disebut warganet dipakai untuk merujuk pada pengguna internet secara umum, akhir-akhir ini terasa memiliki konotasi yang negatif. Ketika membaca komentar-komentar yang tidak nyaman di berbagai media online, seringkali ungkapan “dasar mulut netizen” spontan dikeluarkan.

Istilah netizen menjadi semakin terasa negatif, bukan hanya karena komentarnya yang pedas, tetapi juga yang dirasakan kasar, nyinyir, provokatif, memojokkan, keroyokan, dan juga menyebarkan kebohongan.

14 February 2021

Suara Merdeka untuk Generasi Kekinian

(Suara Merdeka, Halaman Utama 11 Februari 2021)

Perkembangan teknologi informasi tidak bisa dipungkiri telah banyak menggerus eksistensi media cetak di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bukan hanya karena akses informasi bisa diperoleh secara real-time melalui gadget maupun kebiasaan generasi muda yang sehari-harinya mendapatkan berbagai informasi dari gadget, tetapi juga karena cara untuk mendapatkan media cetak umumnya harus melalui berbagai perantara seperti agen koran, penjual koran, atau loper koran. Biaya kertas dan cetak yang terus naik juga menjadi perhatian tersendiri dalam biaya produksi.

Menghilangkan perantara, meminimalkan biaya, dan mempercepat proses merupakan kelebihan teknologi yang selalu disebutkan dalam rantai pasokan atau seringkali disampaikan pada saat menceritakan kisah sukses perusahaan berbasis teknologi di awal abad 21. Dalam survei AC Nielsen juga disebutkan jumlah pembaca media online di tahun 2020 sudah mencapai 6 juta orang, atau lebih banyak dibandingkan pembaca media cetak yang sebanyak 4,5 juta orang.

Beberapa tahun terakhir ini, beberapa media cetak di Indonesia juga akhirnya memutuskan berhenti atau berpindah ke dalam wujud digital. Apakah media online harus menjadi akhir dari media cetak? Apakah disrupsi digital tidak bisa dihindarkan dari media cetak? Berbagai pertanyaan ini juga muncul pada saat Suara Merdeka menginjak usianya yang ke-71.


14 January 2021

Generasi Menembus Batas

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 19 September 2020)


Berbagai cara baru di luar kebiasaan, anti-mainstream, atau kreatif- inovatif para lulusan dapat dimungkinkan berkembang ketika mereka dapat dengan cepat merespons perubahan dan melakukan transformasi


HAMPIR satu tahun ini dunia pendidikan tinggi menjalani perkuliahan daring dengan penuh dinamika. Beberapa kampus berhasil menjalaninya dengan lancar, meskipun pada awal penuh gejolak, namun banyak juga yang masih sulit beradaptasi dengan cara-cara baru karena berbagai hal. Memang, tidak semua bisa diselenggarakan untuk menggantikan cara-cara sebelumnya secara daring. Butuh perkecualian-perkecualian yang masih bisa ditoleransi oleh standar masing-masing kampus.

Namun memaksakan untuk memulai perkuliahan tatap muka secara fisik sebelum ada obat penangkalnya akan dipandang tidak bijaksana dan justru akan menciptakan risiko bagi mahasiswa, dosen, atau bahkan orang-orang yang dicintainya di rumah. Sebab, tidak ada satu pun yang tahu mobilitas masing-masing orang yang akan bertemu dalam tatap muka secara fisik. Mengumpulkan mereka dalam jumlah yang besar, akan meningkatkan risiko untuk menciptakan klaster baru penyebaran Covid-19.

Menjadi hal yang luar biasa ketika mahasiswa berhasil mengatasi berbagai kesulitannya dan bisa lulus pada masa sekarang. Meskipun banyak yang meragukan dalam hal kualitas perkuliahan, mereka yang disebut sebagai lulusan era pandemi, merupakan pemenang yang berhasil mengalahkan kondisi sulit dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang mengejutkan. Bahkan, mereka juga bisa disebut sebagai orang-orang yang kreatif karena berhasil menemukan teknik untuk menyelesaikan studinya dalam kondisi yang baru.

Ketika wisudawan lulus dalam situasi sekarang, bukan hanya membuktikan sebagai sosok-sosok istimewa karena berhasil berjuang menyelesaikan studi dengan cara yang tidak sama dengan kebiasaan pada umumnya, tetapi juga terbukti mempunyai kelincahan dan daya tahan yang baik dalam mengelola perubahan.

Praktik kelincahan ditambah dengan daya tahan dalam jangka panjang, atau dalam buku yang ditulis oleh Angela Duckworth (2016) disebut sebagai Grit, dipandang akan menjadi modal yang berharga dalam menghadapi dan membuat terobosan akan masa depan yang konstan akan perubahan.