20 January 2018

Melangkah Maju Bersama

(Tabloid Warna, edisi 15/Januari 2018)

Warna-15_01_2017-Melangkah-Maju-Bersama

“Setiap individu memiliki peran dalam mewujudkan program-program yang dicanangkan oleh organisasi melalui talentanya masing-masing”

Perubahan yang sangat cepat pada masa sekarang ini, telah menciptakan berbagai bisnis baru yang tidak terbayangkan sebelumnya. Siapa yang dulu pernah membayangkan pemilik-pemilik motor dari rumahnya masing-masing bersedia dihimpun untuk menerima tugas mengantar seseorang melalui sebuah aplikasi ponsel dan menerima honor untuk setiap tugas yang dikerjakannya? Kini Gojek, Uber, dan Grab sudah menjadi hal yang biasa kita lihat sehari-hari bahkan nilai perusahaan mereka melebihi perusahaan transportasi sejenis yang sudah ada.

Fenomena sejenis juga dapat dilihat dari pemilik kamar kamar atau rumah yang bersedia disewa oleh orang lain melalui aplikasi ponsel seperti AirBNB, Airy Rooms, ZenRooms, RedDoorz, Agoda ataupun Traveloka. Meskipun perusahaan-perusahaan ini tidak memiliki aset kamar, rumah, maupun hotel, transaksi finansial yang dihasilkannya telah melebihi usaha perhotelan yang sudah berdiri sebelumnya.

Satu lagi usaha yang akhir-akhir ini sering muncul di iklan radio yaitu UangTeman.com berhasil menghimpun para pemilik-pemilik dana yang jumlah dananya mungkin tidak besar namun dalam jumlah banyak. Mereka membantu orang-orang yang ingin meminjam dana namun dalam jumlah yang tidak terlalu besar dan tidak mau direpotkan dengan prosedur peminjaman yang rumit. Bisnis yang termasuk dalam kategori Financial Teknology (fintech) akan banyak mengubah dunia perbankan di masa yang akan datang.

02 January 2018

Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional, 2 Januari 2018)

SM-2_01_2018-Self-Disruption-Perpusatakaan-perguruan-Tinggi

“Pengelola perpustakaan dituntut melakukan self-disruption untuk dapat mempertahankan posisinya sebagai paru-paru pengetahuan di perguruan tinggi”

DALAM beberapa tahun terakhir ini istilah Disruptive Innovation menjadi semakin populer sejak kemunculan transportasi online, penginapan online, tiket online, dan bisnis-bisnis online sejenisnya. Meskipun istilah ini sudah mulai dikenalkan pada tahun 1995 dalam Harvard Business Review (Bower & Christensen, 1995) dan dipublikasikan dalam buku The Innovatorís Dilemma dua tahun kemudian (Christensen, 1997), pembahasan mengenai teori ini secara meluas baru muncul akhir-akhir ini.

Dalam bukunya, Christensen menekankan bahwa produk dalam kelompok disruptive innovation umumnya lebih murah, lebih sederhana, lebih kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Produk tersebut awalnya menyasar pada kelompok kecil pengguna, namun akhirnya dapat menggantikan produk yang dikembangkan oleh pemimpin pasar setelah mengalami berbagai peningkatan kualitas dan penyesuaian kebutuhan.

Namun Christensen menekankan bahwa peningkatan performa secara berkelanjutan yang umumnya dilakukan oleh pemimpin pasar pada suatu produk, bukanlah disruptive innovation melainkan sustaining innovation. Sebagai incumbent, inovasi yang bertahap seringkali tidak cukup lagi untuk menghadapi perubahan radikal yang terjadi saat ini. Dibutuhkan kemauan untuk self-disruption agar sebuah organisasi dapat bertahan.

Contoh dalam dunia pendidikan, perpustakaan di perguruan tinggi seringkali menghadapi kenyataan pahit bahwa jumlah mahasiswa dan dosen yang berkunjung ke perpustakaan semakin lama semakin menurun. Bahkan di beberapa perguruan tinggi, beberapa pustakawan beralih divisi karena kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di perpustakaan tidak lagi setinggi yang dulu.