22 June 2020

Sesat Pikir Kuliah Daring

(Kompas, Opini 22 Juni 2020)


Generalisasi kualitas pembelajaran daring sungguh berbahaya untuk kemajuan pendidikan di negeri ini. Pemerintah dan DPR harus mendorong kampus-kampus untuk berkembang lebih baik dalam melayani pendidikan bangsa kita.

Pandemi dan kuliah daring adalah dua hal yang berbeda. Hal ini jelas secara makna harfiah meski terjadi pada saat yang sama. Memang kuliah daring sangat happening saat pandemi Covid-19 tiba-tiba menerjang dunia.

Akan tetapi, bukan karena pandemi kuliah daring baru tercipta. Kegiatan pembelajaran di dalamnya tidak bisa suka-suka ditentukan sendiri, apalagi ala kadarnya karena sejak bertahun-tahun yang lalu sudah berkembang aktivitasnya. Kualitas pembelajaran tetap harus maksimal, bahkan dengan usaha yang lebih, meski kita menyadari situasi saat ini tidak mudah.

Progresivitas Dunia Pendidikan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 22 Juni 2020)


Meskipun pandemi Covid-19 bukan hal yang patut disyukuri, namun sesungguhnya menciptakan sisi positif yang bisa direfleksikan.

AKIBAT pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, Unika Soegijapranata akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakan wisuda daring seperti kampus lainnya. Wisuda yang disebut sebagai selebrasi virtual ini menggunakan teknologi animasi deteksi wajah (face-tracking animation). Meskipun pemanfaatan teknologi ini bukan hal yang asing dalam dunia perfilman Hollywood, inovasi ini baru pertama kali terjadi dalam wisuda di Indonesia, bahkan di dunia.

Hampir setiap hari muncul berbagai tawaran webinar yang bisa diikuti tanpa berbayar. Berbagai keahlian dan wawasan haru secara serempak dibagikan dalam seminar-seminar daring tersebut. Fenomena ini seperti melihat semua tokoh dan ahli keluar dari sarangnya. Banyak masyarakat yang mendapatkan manfaatnya dan acara-acara tersebut secara rutin. Sebuah kreativitas dan kebiasaan yang mungkin belum dilakukan sebelumnya pada masa normal, bahkan di institusi pendidikan sekalipun.

05 June 2020

Pembelajaran Daring untuk New Normal

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 4 Juni 2020)


"Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas"

SKENARIO New Normal (kenormalan baru) yang disiapkan oleh pemerintah beserta tahapan-tahapan pemulihan aktivitas di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, menyiratkan akan adanya pembukaan kembali sekolah dan kampus dalam waktu dekat. Banyak pihak sebetulnya juga telah berharap bisa segera beraktivitas normal, meskipun juga di sisi lain tidak menginginkan ada peningkatan penyebaran Covid-19 seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Jerman.

Praktik pelaksanaannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan dan tidak mungkin sama dengan sebelum masa pandemi. Apalagi kita juga tahu, belum ada vaksin yang benar-benar terbukti mampu menyembuhkan dari Covid-19, selain stamina dan peningkatan imun tubuh. Jadi, penerapan protokol kesehatan seperti menjaga jarak aman, mengenakan masker, dan mencuci tangan menjadi syarat dalam kondisi kenormalan baru yang akan diterapkan.
Dalam berbagai infografik kenormalan baru, bidang pendidikan dirancang untuk mulai dibuka pada tahapan ketiga melalui penerapan protokol kesehatan yang ketat dengan mengatur kehadiran siswa secara bergiliran, agar syarat jarak aman dan kapasitas ruang dapat terpenuhi. Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas. Pertama, kapasitas kelas dimungkinkan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya karena jarak antarsiswa akan mengurangi kapasitas kelas pada umumnya. Konsekuensinya adalah biaya penyelenggaraan setiap kelas akan menjadi lebih besar dari sebelumnya, karena jumlah pengajar maupun ruang mengalami peningkatan. Sekolah atau kampus yang telah lama menerapkan kelas dalam jumlah kecil, tentu akan lebih mudah dan diuntungkan dalam situasi ini.