Showing posts with label dikti. Show all posts
Showing posts with label dikti. Show all posts

27 February 2016

Pemeringkatan Perguruan Tinggi di Indonesia Tahun 2015 versi Kementerian Ristek dan Dikti

Sudah lama tidak menulis di blog ^_^ Terakhir menulis di sini ternyata November tahun 2015 saat rubrik Teknologi masih ada di Suara Merdeka. Tulisan kali ini sekedar berbagi informasi dari Kementerian Ristek dan Dikti yang beberapa waktu dirilis: versi lengkap Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia Tahun 2015.
Peringkat Perguruan Tinggi 2015 versi Kemenristekdikti
Meskipun sudah diumumkan pada 17 Agustus 2015, namun versi lengkap peringkat 3320 Perguruan Tinggi ini baru muncul di awal Februari 2016. Masyarakat kemudian bertanya-tanya dasar dari pemeringkatan tersebut.

Jika dilihat dari presentasi Dr. Agus Indarjo (Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi), peringkat tersebut ditentukan dari Kualitas Dosen (12%) dan Jumlah Dosen (18%), Kualitas Manajemen (30%), Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan (10%), serta Kualitas Kegiatan Penelitian (30%) yang bisa dilihat pada gambar 1 di akhir artikel.

Seperti halnya dengan peringkat-peringkat lain dengan segala kelebihannya, peringkat dari pemerintah ini juga punya data yang tidak dimiliki oleh peringkat lain karena diambil dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD DIKTI) yang diakumulasi dari laporan wajib atas pengelolaan setiap semester oleh Perguruan Tinggi sejak dahulu kala dan baru dimanfaatkan untuk pemeringkatan. Selain itu juga ada data dari Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Simlitabmas) yang harus dimasukkan oleh peneliti Perguruan Tinggi jika ingin mendapatkan hibah Penelitian maupun Pengabdian Masyarakat.

Dengan data-data tersebut, dihasilkan 11 Peringkat Perguruan Tinggi Terbaik yang diumumkan pada 17 Agustus 2015 yang lalu. Peringkat tersebut memang hanya diisi oleh 11 Perguruan Tinggi Negeri yang dalam pengelolaannya didukung oleh dana pemerintah (Gambar 2). Sedangkan untuk Perguruan Tinggi Swasta, juga dihasilkan 11 Peringkat Perguruan Tinggi Swasta Terbaik berdasarkan semua kriteria (Gambar 3). Peringkat ini bisa berubah dari tahun ke tahun, tergantung dari perkembangan dan aktivitas perguruan tinggi di tahun berikutnya.

Namun masa depan setiap mahasiswa tentunya tidak hanya ditentukan oleh tinggi-rendahnya peringkat perguruan tingginya semata, tetapi juga bagaimana atmosfer akademik dan non-akademik yang dibangun di sana, keaktifan mahasiswa itu sendiri, wawasan dalam pergaulan di perguruan tinggi, serta kuasa Tuhan atas diri kita. 


Gambar 1. Indikator Pemeringkatan

Peringkat 11 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia

Peringkat 11 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Indonesia

16 August 2009

Rahasia Peringkat Perguruan Tinggi di Webometrics

(Suara Merdeka Minggu - Rubrik Konek 16 Agustus 2009)

 

Baru-baru ini, Webometrics telah mengeluarkan peringkat terbaru perguruan tinggi di seluruh dunia. Tiga puluh sembilan universitas di Indonesia berhasil masuk ke dalam 6.000 daftar puncak perguruan tinggi di seluruh dunia. Apakah sebetulnya Webometrics? Dan bagaimana mekanisme pengukuran ranking tersebut?

Webometrics03

Webometrics merupakan salah satu lembaga yang mengukur peringkat perguruan tinggi di dunia, disamping THE-QS World University Rankings yang diumumkan oleh Times Higher Education (THE) dan Quacquarelli Symonds (QS), Academic Ranking of World Universities yang disusun oleh Shanghai Jiao Tong University, Top 100 Global Universities yang dipublikasi oleh majalah Newsweek, dan masih banyak lagi.

Namun ketika Anda mencari di Google dan Yahoo dengan menggunakan kata kunci world university rank, lembaga yang beralamatkan di www.webometrics.info menempati urutan yang pertama di kedua mesin pencari tersebut. Hasil yang tidak jauh berbeda juga ditunjukkan ketika Anda mencarinya di mesin pencari milik Microsoft, Bing.com.

Meskipun tingginya peringkat di mesin pencari tidak dapat dijadikan sebagai penentu standar mutu dari peringkat yang dikeluarkan, namun dapat dijadikan petunjuk atas tingginya minat masyarakat dunia terhadap urutan yang disajikan oleh lembaga penelitian terbesar yang berkedudukan di Spanyol.

Situs resmi Dirjen Dikti juga mencantumkan tautan (link) ke situs tersebut di halaman depannya. Bahkan setiap kali peringkat dari Webometrics dikeluarkan di bulan Januari dan Juli, berbagai media massa dan situs-situs bertema pendidikan ikut meliputnya.

Dan sudah pasti, perguruan-perguruan tinggi di Indonesia yang masuk di dalam daftar tersebut ikut mencantumkannya di situs resmi universitas dan halaman-halaman pribadi staf pengajar sebagai petunjuk kenaikan prestasi perguruan tingginya.

Standar Pengukuran

Terdapat empat hal yang dijadikan sebagai unsur penilaian dalam peringkat yang dikeluarkan oleh Webometrics. Unsur pertama yang disimbolkan sebagai S, adalah banyaknya halaman web perguruan tinggi yang ditemukan oleh empat mesin pencari Google, Yahoo, Live Search, dan Exalead.

Sedangkan unsur yang kedua adalah rich files (R) atau kekayaan dokumen dari website perguruan tinggi bersangkutan dalam format Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc), dan Microsoft Powerpoint (.ppt).

Unsur yang ketiga yang disimbolkan Sc merupakan laporan, tulisan-tulisan ilmiah, dan pekerjaan-pekerjaan akademik yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut dan terekam oleh Google Scholar.

Situs Google Scholar atau Google Cendekia dapat ditemukan di alamat scholar.google.com. Situs ini menyediakan tulisan-tulisan dan kutipan yang dihasilkan oleh seluruh orang di dunia.

Unsur yang keempat merupakan jumlah keseluruhan tautan ke situs perguruan tinggi tersebut yang terdeteksi oleh keempat mesin pencari di atas. Unsur terakhir ini disimbolkan sebagai V.

Keempatnya kemudian diformulasikan ke dalam rumus 2S + R + Sc + 4V. Hasilnya merupakan poin yang digunakan dalam pembuatan peringkat perguruan tinggi di dunia dalam dua kali setahun, yang dapat dilihat pada situs www.webometrics.info.

Usaha Peningkatan

Semakin banyak tautan dan halaman web yang muncul di mesin pencari Google, Yahoo, Live Search, dan Exalead dampaknya cukup dominan di dalam hasil pemeringkatan. Selain itu, banyaknya dokumen dalam keempat format dokumen di atas dan publikasi ilmiah yang diunggah ke situs perguruan tinggi juga ikut berperan mempengaruhi penilaian Webometrics.

Untuk meningkatkan S dan V, sebetulnya dapat menggunakan teknik yang umum digunakan di dalam SEO (search engine optimatization). Agar lebih mudah dikenal oleh mesin pencari, pengelola web perguruan tinggi dapat mengatur struktur direktori situs dan file di dalam website masing-masing.

Namun perlu diingat, penggunaan teknik SEO yang curang akan mengurangi angka yang sudah diperoleh. Webometrics menginformasikan hal tersebut di dalam catatannya yang dipublikasi melalui www.webometrics.info/notes.html.

Pada akhirnya, ketika semua perguruan tinggi sudah menguasai teknik untuk memanajemen situs webnya, nilai R dan Sc akan menjadi penentu dalam peringkat Webometrics.

Keaktifan dalam mengunggah (upload) pengumuman, surat-surat terbuka, materi kuliah, dan dokumen lainnya yang berakhiran pdf, ps, doc, dan ppt sangat disarankan dalam hal ini. Selain itu, produktivitas dosen, mahasiswa, dan karyawan dalam hal akademik harus dipublikasikan secara rutin dan rapi melalui situs perguruan tinggi masing-masing. (Ridwan Sanjaya)

27 February 2008

Media E-Learning dengan ATutor

(Suara Merdeka Minggu - Rubrik Konek 10 Februari 2008)

Inovasi dalam teknologi pembelajaran memang tidak pernah berhenti. Setiap saat pendidik yang tergabung di dalamnya berusaha untuk mengembangkan teknologi yang digunakan selama ini dan memperbaiki kelemahan-kelemahannya untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.

ADANYA dukungan dari pemerintah, terutama dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional menstimulasi beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk mulai membangun sistem pembelajarannya berbasis web.
Dukungan dalam bentuk Program Hibah Kompetisi Teknologi Informasi dan Komunikasi, mendorong insitusi pendidikan di negeri ini untuk mulai memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajarannya.
E-Learning atau proses pembelajaran melalui media elektronik, terutama internet, saat ini dianggap dapat menjadi salah satu solusi pendidikan bagi peserta didik yang tidak dapat hadir secara fisik ke setiap perkuliahan, namun mempunyai niat untuk memperoleh pengetahuan atapun keinginan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi institusi pendidikan, teknologi di dalam E-Learning dapat dijadikan media untuk semakin memperbaiki kualitas dalam pembelajaran jarak jauh (distance learning). Jika semula E-Learning terkesan sebagai pembelajaran yang pasif dan hanya satu arah dari instruktur atau staf pengajar semata, setahap demi setahap hal ini mulai dirombak.


Adanya fasilitas forum dan chating di dalam media E-Learning mulai merubah pandangan banyak orang akan pembelajaran melalui website yang aktif. Dukungan multimedia dan perkembangan baru di dunia web semakin membantu mewujudkan pembelajaran interaktif, meskipun tidak bertemu secara fisik.
Jika semula E-Learning dilihat sebagai aktifitas upload dan download materi pendidikan secara besar-besaran melalui media internet, saat ini dituntut untuk dapat lebih interaktif dan menekankan kolaborasi di dalam pembelajaran. Bukan semata-mata aktifitas untuk menghabiskan bandwidth internet tetapi juga peningkatan kualitas pembelajaran di dalamnya.
Tidak adanya hubungan interaktif dan seringkali komunikasi hanya terjalin satu arah antara pengajar dengan siswa menjadi keprihatinan tersendiri. Website E-Learning harus juga bisa digunakan untuk memfasilitasi tugas-tugas kelompok meskipun masing-masing peserta didik terpisah lokasi dan waktu.

E-Learning dengan ATutor
Kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan di dalam E-Learning saat ini sudah dapat ditemukan di berbagai perangkat lunak Learning Content Management System (LCMS) seperti ATutor, Moodle, Sakai Project, dan lain sebagainya. Sebagian besar LCMS yang ada saat ini telah menyediakan fasilitas forum, blog, chat, pembelajaran, bank pertanyaan, penilaian, dukungan multimedia, wiki, tugas kelompok, dan dukungan berbagai bahasa.
ATutor merupakan media E-Learning yang tampilannya cukup user-friendly dan kemudahannya dalam penambahan fasilitas-fasilitas pembelajaran E-Learning lainnya apabila dibutuhkan. Penambahan tersebut sifatnya opsional karena tidak semua institusi pendidikan membutuhkan fasilitas tersebut. Software ini dapat didownload secara gratis dari http://www.atutor.ca.
Pada awalnya ATutor hanya menyediakan fasilitas untuk penulisan materi, upload materi ke server, pertugasan dalam kuliah, pembuatan bank soal, pengujian dan penilaian, serta fasilitas untuk komunikasi antar pengguna yaitu chating, forum, dan blog.
Namun jika dibutuhkan, Anda dapat menambah modul untuk Kalender yang berisi aktivitas peserta didik terkait dengan course yang diselenggarakan. Modul tambahan lain yang ditambahkan dapat berupa Photo Gallery, Text2Speech, WebChat, Ewiki, dan lain sebagainya dapat didownload melalui alamat http://www.atutor.ca/modules.
Apabila semua modul tambahan diinstalasi, maka ATutor akan menjadi media E-Learning yang cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran berbasis web. Beberapa modul tambahan yang menarik antara lain Blogs, Forum, Chat, Calendar, dan PhotoAlbum.
Calendar digunakan untuk pedoman bagi pengguna akan adanya peristiwa tertentu terkait dengan pembelajaran. Modul PhotoAlbum digunakan untuk berbagi gambar di dalam situs E-Learning. Sedangkan Blogs, Forum, dan Chat digunakan untuk media komunikasi antara pengguna E-Learning, baik pengajar dengan peserta didik maupun antar peserta didik itu sendiri.
Apabila dibandingkan dengan software LCMS lainnya, ukuran file instalasi ATutor terbilang cukup kecil yaitu 2.451 Kilobyte. Namun kecilnya ukuran ini tidak mengurangi kelengkapan fungsi yang dibutuhkan oleh proses pembelajaran berbasis web. Bahkan perangkat lunak ini dapat digabungkan dengan software Content Management System (CMS) PostNuke, Mambo/Joomla, dan Drupal.
Sehingga ketiganya dapat menambahkan ATutor sebagai kesatuan bagian yang tidak terpisah dengan sistem yang telah ada. Pantas kiranya apabila ATutor menjadi software pilihan dalam penyelenggaraan E-Learning yang mudah namun handal karena berbagai kelebihan dan kelengkapan fasilitasnya.