13 March 2007

Menikmati Sensasi Desktop 3 Dimensi

Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 4 Maret 2007)

Apakah Anda masih ingat film Minority Report, dimana Tom Cruise bisa membuka dan memilih dokumen-dokumen di dalam server dengan menggunakan tangan virtualnya? Dokumen-dokumen tersebut seakan-akan nyata, bisa diputar, atau melayang-menjauh ketika disingkirkan. Saat ini visualisasi tersebut bukan lagi hal yang mustahil. Bahkan bukan hanya Windows Vista yang mampu menampilkan sensasi 3 dimensi tersebut.

Aero merupakan fitur user interface terbaru di dalam Windows Vista yang membedakan dengan versi sebelumnya dan menjadi daya tarik dari Windows Vista pada saat diperkenalkan pada masyarakat. Melalui Flip 3D, yang merupakan bagian dari Aero, Anda dapat mengganti-ganti jendela program di dalam Windows dengan menggunakan kombinasi tombol Alt+Tab, namun divisualisasikan dalam bentuk kartu 3 dimensi yang melayang-layang di atas desktop.
Dengan fitur baru tersebut, Anda akan merasakan perbedaan yang mencolok antara lingkungan kerja Windows XP dan Vista. Namun sebetulnya tampilan sejenis ini sudah dikenalkan sebelumnya oleh Sun Microsystem melalui proyek open source “Java Looking Glass” yang dikenalkan pada tahun 2003 dan diluncurkan secara resmi pada pertengahan Desember 2006. Karena sifatnya open-source, proyek ini memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mengunduh program ini melalui http://lg3d-core.dev.java.net.
Melalui proyek ini, Sun Microsystem, musuh bebuyutan Microsoft, memberikan kesempatan pada pengguna Linux dan Solaris x86, bahkan juga Windows, untuk merasakan sensasi pengalaman yang mengesankan melalui tampilan desktop 3 dimensi yang justru baru dikenalkan oleh Microsoft melalui Windows Vista.
Jika Anda membandingkannya dengan tampilan Aero di Windows Vista, fitur yang ditawarkan oleh Java Looking Glass tampak lebih kaya. Bukan hanya tampilan jendela di dalam desktop yang dibuat menjadi 3 dimensi, namun juga tampilan taskbar dan aplikasi-aplikasi yang sedang dijalankan.
Jendela Dapat Dilipat
Kemampuan efek 3 dimensinya mampu menampilan jendela dengan menggunakan bayangan, jendela diatas kubus yang dapat diputar, transparansi, serta efek visual 3 dimensi lainnya. Java Looking Glass mampu mengatur setiap elemen di dalam desktop menjadi sebuah ruang tiga dimensi.
Jendela program dapat dilipat kesisi sebelahnya, diputar, atau dimanfaatkan untuk menyimpan memo dan lainnya di balik jendela tersebut. Ikon-ikon desktop diletakkan di atas sebuah papan dalam ruang 3 dimensi dan dapat menampilkan efek animasi tertentu ketika dilewati oleh mouse.
Kebutuhan perangkat keras yang disarankan untuk menjalankan Java Looking Glass minimal menggunakan prosesor dengan kecepatan 1.4 GHz, RAM 512 MByte, kartu grafis yang mendukung 3D, dan harddisk sebesar 600 MByte.
Salah satu produsen distro Linux, Mandriva, juga tidak mau ketinggalan dalam menyertakan tampilan 3 dimensi di dalam desktopnya melalui distro terbarunya, Mandriva Linux 2007. Dengan adanya AIGLX and Xgl 3D, desktop Mandriva dapat diputar seperti layaknya sebuah kubus ketika suatu jendela program melewati tepi layar.Dengan begitu, sensasi desktop 3 dimensi bukan lagi dominasi dan keistimewaan salah satu sistem operasi saja, tetapi sudah menjadi bagian dari fitur yang akan terus disertakan dalam pengembangan tampilan desktop pada sistem operasi.

03 March 2007

Microsoft Office di Dalam Web

(Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 25 Februari 2007)

Pernahkah Anda membayangkan program yang selama ini Anda gunakan untuk mengetik di kantor dapat ditemukan di internet? Untuk menjalankannya, Anda hanya cukup menggunakan web browser, tanpa perlu menginstal program tersebut. Bahkan semua dokumen dapat disimpan di sana, tanpa perlu menghabiskan kapasitas harddisk di komputer Anda. Sehingga pekerjaan tidak lagi terikat pada lokasi.

Hanya saja, program tersebut bukanlah aplikasi kantor buatan Microsoft melainkan milik Google, sang raja mesin pencari di Internet, Zoho.com, dan Ajax13. Ketiganya menyediakan aplikasi kantor yang didesain mirip dengan Microsoft Word, Excel, dan Power Point. Begitu pula dengan fungsi-fungsi yang ada di dalamnya.
Google menyediakan dua aplikasi Office, yaitu Google Docs dan SpreadSheet, yang dapat dijalankan melalui docs.google.com dan spreadsheet.google.com. Dengan Google Docs, Anda dapat mengetik, mengatur format huruf, dan spell-checking seperti halnya Microsoft Word. Anda juga dapat mengelola dokumen yang dibuat dengan format OpenOffice, RTF, HTML atau teks biasa. Yang menarik, pengguna dapat menyimpannya ke dalam berbagai macam format dokumen, termasuk PDF, tanpa perlu adanya software tambahan.
Sedangkan Google Spreadsheet memungkinkan Anda untuk mengelola dokumen yang dibuat dengan Microsoft Excel serta menyimpannya di server Google. Bahkan Anda juga dapat menentukan user yang dapat mengubah ataupun hanya melihat isi dokumen, termasuk menampilkannya ke dalam Blog.
Untuk memanfaatkan semua itu, tidak dikenakan biaya. Pengguna hanya perlu mendaftarkan diri dengan email yang disediakan oleh Google. Fitur Javascript di dalam web browser merupakan salah satu syarat yang perlu diaktifkan untuk dapat menjalankan kedua aplikasi Office tersebut. Keduanya menggunakan teknologi Ajax (Asynchronous JavaScript + XML) dalam memproses semua komunikasi antara pengguna dan server Google sehingga aksesnya menjadi lebih cepat.
Bagi pengguna internet broadband, hampir tidak terasa adanya perbedaan kecepatan proses antara aplikasi Office yang dijalankan di komputer dan di internet. Karena Ajax mampu meminimalkan proses antara komputer pengguna dan server. Hanya data yang diperlukan saja, yang akan diminta oleh web browser ke server.

Selain Google, Zoho.com juga menyediakan aplikasi serupa, yaitu Zoho Writer dan Zoho Sheet. Masih ditambah dengan aplikasi Zoho Show untuk kepentingan presentasi seperti halnya Microsoft PowerPoint, dan Zoho Virtual Office (Zohovo), yang memungkinkan Anda bekerja layaknya di komputer sendiri.
Zohovo menyediakan aplikasi sejenis Windows Explorer untuk mengatur file dan aplikasi sejenis Microsoft Outlook untuk mengelola email dan daftar janji. Sehingga Anda serasa berada di komputer lokal, meskipun berada di luar negeri sekalipun. Semua aplikasi tersebut dapat Anda akses melalui www.zoho.com.
Tidak kalah dengan Google dan Zoho, Ajax13 juga menyediakan ajaxWrite, ajaxXLS, dan ajaxPresents, serta ajaxSketch untuk membuat sketsa dan ajaxTunes untuk mendengarkan musik. Kelima aplikasi tersebut dapat Anda akses melalui www.ajax13.com.

21 February 2007

Telepon Murah dengan VoIP Rakyat

(Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 18 Februari 2007)

Meskipun sering mendengar istilah VoIP atau Voice over Internet Protocol, banyak masyarakat awam belum paham betul maksud dan manfaatnya. Sebagian mungkin sudah tahu bahwa dengan menggunakan VoIP, biaya komunikasi dapat menjadi lebih ringan. Beberapa operator telepon bahkan berlomba-lomba mengeluarkan produk SLI dengan VoIP dengan biaya percakapan di bawah normal.

Penetapan harga yang cukup murah ini tentu saja menarik minat pengguna telepon dari kalangan menengah ke bawah yang membutuhkan komunikasi dengan sanak-saudaranya di luar negeri, namun tidak terlalu mengutamakan kualitas suara. Jika dibandingkan dengan jalur komunikasi normal, kualitas suara yang dihasilkan oleh produk-produk komunikasi berbasis VoIP memang masih kalah. Namun dengan semakin berkembangnya infrastruktur internet di Indonesia, kualitas suara yang dihasilkan akan semakin mendekati kualitas jalur komunikasi normal.
VoIP (vi-o-ai-pi) atau komunikasi suara yang memanfaatkan jalur internet merupakan metode untuk membawa sinyal analog yang biasa kita dengar melalui telepon ke jalur internet dengan mengkonversinya menjadi sinyal digital. Untuk membawa sinyal digital tersebut digunakan Internet Protocol (IP). Dengan menggunakan jalur internet, biaya percakapan dapat ditekan.
Setiap orang dapat dengan mudah membangun infrastruktur telekomunikasi ini, namun tidak setiap orang dapat menghubungkan jalur komunikasi tersebut ke telepon rumah atau telepon selular yang telah ada tanpa adanya lisensi dari pemerintah. Hanya perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang telah memperoleh lisensi, dilegalkan untuk menyelenggarakan layanan ini yang dapat menghubungkan jalur komunikasi VoIP ke dalam jalur telekomunikasi yang telah ada.


Menghemat Uang
Meskipun dengan kondisi yang terbatasi oleh aspek legalitas yang telah disampaikan di atas, beberapa praktisi yang bergerak melalui ICT Center Jakarta tetap memperjuangkan jalur telekomunikasi sendiri yang berbasis VoIP, dengan nama VoIP Rakyat. Dengan melakukan peering atau interkoneksi ke beberapa server di berbagai universitas, penyedia jasa layanan internet (ISP), dan perusahaan-perusahaan, diharapkan jalur komunikasi ini dapat menjadi alternatif komunikasi murah bagi rakyat dan industri yang menginginkan penghematan keuangan di sisi telekomunikasi.
Semakin besar komunitas pengguna VoIP Rakyat, semakin besar pula kemungkinan Anda berkomunikasi dengan setiap orang di lain kota bahkan di lain negara tanpa mengeluarkan biaya yang mahal. Biaya yang dikeluarkan hanyalah biaya internet yang telah dianggarkan sebelumnya. Apalagi saat ini akses internet merupakan hal yang umum di setiap universitas dan perusahaan di Indonesia.
Perangkat lunak yang dibutuhkan untuk bertelepon melalui VoIP Rakyat antara lain VoIP Rakyat Communicator, X-Lite, SJPhone, Ekiga, Idefisk, dan iaxLite. Beberapa softphone tersebut dapat berjalan di sistem operasi Windows, Linux, dan Macintosh. Semuanya dapat Anda download melalui http://voiprakyat.or.id/?inc=download.
Sedangkan perangkat keras yang dibutuhkan hanyalah seperangkat komputer yang selama ini digunakan untuk mengakses internet, ditambah headset untuk berbicara dan mendengar, menggantikan fungsi pesawat telepon. Bahkan jika diperlukan, dapat ditambahkan dengan kamera web untuk melihat lawan bicara Anda.
Selain komputer, Anda juga dapat menggunakan perangkat khusus VoIP yang sudah banyak dijual di pasaran oleh InfoAsia. Dengan perangkat ini, Anda dapat memanfaatkan komunikasi VoIP melalui perangkat telepon yang selama ini digunakan.
Setelah melakukan registrasi melalui http://www.voiprakyat.or.id, Anda akan memperoleh nomor telepon dan nickname yang harus disimpan ke dalam softphone yang telah dipilih. Nomor telepon VoIP Rakyat yang diperoleh menggunakan awalan 621881001 dan dilanjutkan dengan lima digit nomor di belakangnya. Untuk mengetahui pengguna VoIP Rakyat yang sedang aktif, Anda dapat melihatnya melalui http://www.voiprakyat.or.id/?inc=online_phones.

Akses ke Telepon Rumah
Saat ini, VoIP Rakyat lebih mengandalkan jumlah komunitas pengguna yang dibangun oleh pengguna jalur komunikasi itu sendiri. Komunikasi yang terjadi lebih terfokus pada sesama pengguna VoIP Rakyat, belum dapat tersambung ke telepon rumah. Berbagai percobaan dan perkembangan ke arah itu dapat diikuti di dalam Forum VoIP melalui http://www.voiprakyat.or.id/forum.
Namun jika sekarang ini Anda tetap menghendaki jalur VoIP yang digunakan dapat berkomunikasi dengan jalur telekomunikasi yang telah ada, terdapat cara legal yang dapat dipelajari dalam buku “VoIP Rakyat, Cikal Bakal Telkom Rakyat” yang ditulis oleh Onno W. Purbo. Melalui VoIP Discount, VoIP Cheap, dan IMAXindo, telepon VoIP yang Anda bangun dapat terhubung ke nomor-nomor telepon yang sudah ada. Bahkan dengan telepon selular yang memiliki fasilitas WiFi, Anda dapat menggunakan ponsel untuk menelepon tanpa biaya sama sekali.
Berbeda dengan Yahoo! Messenger atau software instant messenger lainnya yang servernya terletak di luar negeri, server VoIP Rakyat berada di dalam negeri dan terhubung langsung ke jaringan IIX (Indonesia Internet eXchange). Sehingga telekomunikasi dengan jalur ini tidak akan terganggu oleh keterbatasan bandwidth ke luar negeri. Kualitas suara akan jauh lebih baik dengan waktu tunda yang rendah, mendekati kualitas bertelepon biasa.
Jika Anda telah menggunakan komunikasi suara melalui Yahoo! Messenger, Google Talk, Skype, dan sejenisnya, alternatif ini patut dicoba untuk mendapatkan kualitas suara yang lebih bagus dan potensi telekomunikasi dengan biaya murah.

Internet Murah di Kamar Kos

(Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 28 Januari 2007)

Internet memang bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat kita. Namun pengguna internet di Indonesia ternyata masih terhitung sedikit. Masih tingginya harga akses internet dan kemampuan daya beli masyarakat, seringkali menjadi alasan masyarakat enggan menggunakan internet untuk aktivitas sehari-hari.

Data dari http://www.internetworldstats.com/ menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 8,1 persen dari jumlah penduduk atau berkisar 18 juta penduduk dari total penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta orang. Padahal akses internet yang merakyat sangat dibutuhkan bukan hanya sekedar untuk sarana berkomunikasi murah dan cepat, tetapi juga alat untuk mencerdaskan bangsa.
Ketersediaan data dan informasi yang baru dan tidak terbatas menjadi salah satu stimulator masyarakat dalam mencari serta membaca berbagai pengetahuan yang disediakan di internet. Bagi pelajar dan mahasiswa, internet dapat menjadi perpustakaan superbesar yang tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Berbagai literatur dan pengetahuan baru muncul, tersedia, dan dapat diakses dalam 24 jam sehari tanpa terikat oleh tempat.
Untuk itu dibutuhkan suatu strategi dalam mencari solusi kebutuhan internet terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Apalagi kebutuhan akan internet di kalangan ini sebetulnya telah ada. Hal ini dapat dilihat dari mulai meningkatkan jumlah dan frekuensi pengakses internet melalui hotspot-hotspot gratis yang di sediakan oleh kampus, serta meningkatnya jumlah warnet di lingkungan kampus.


Kos-Kosan dot Net
Apabila akses internet murah juga disediakan di rumah kos, tentunya mereka akan semakin mudah dalam mengakses informasi yang dibutuhkannya sewaktu-waktu. Jika akses internet dapat dibagi dengan beberapa pengguna, kehadiran akses internet non-stop 24 jam akan menjadi lebih murah dan memadai. Kos-kosan merupakan salah satu contoh tempat yang potensial untuk penerapan konsep ini, yang populer disebut RT/RW Net. Dengan jumlah penghuni yang berkisar 10-15 orang, akses internet dapat dibagi dengan harga yang terjangkau. Terdapat beberapa strategi yang dapat ditempuh dalam pembuatan Kos-Kosan dot Net atau akses internet di kos-kosan.
Yang pertama, dengan melibatkan warung internet di sekitar rumah kos. Dengan biaya tetap per bulan yang sudah disepakati bersama dan tentunya lebih murah dari biaya akses internet yang normal, akses internet akan disalurkan ke kos-kosan yang ada di sekitar warnet. Penyaluran dapat melalui pemilik kos sebagai pengelola jaringan di rumah kos atau secara langsung ke setiap penghuni kos.
Apabila harga akses internet yang ditawarkan mampu diterima oleh kantong pelajar atau mahasiswa yang menghuni rumah kos, tentunya hal ini bukan hanya meringankan penghuni kos yang bisa mengakses internet 24 jam sehari dari kamar kos dengan harga murah, tetapi juga warung internet yang memperoleh kepastian pendapatan setiap bulannya. Alternatif yang kedua, pemilik kos dapat bertindak sebagai penyedia jaringan internet. Dengan bekerjasama dengan salah satu penyedia jasa layanan internet (ISP), akses internet kemudian dibagi ke seluruh penghuni kos sebagai sebuah fasilitas. Fasilitas ini serupa dengan fasilitas televisi atau pendingin ruangan yang umumnya telah ditawarkan sebelumnya.
Apabila biaya tetap akses internet tanpa batas (unlimited) per bulan adalah Rp. 1.500.000, maka biaya ini akan dibagi dengan jumlah penghuni kos. Jika satu rumah kos terdiri dari 15 orang, maka setiap penghuni dapat mengakses internet tanpa batas dengan biaya minimum berkisar Rp. 100.000 - Rp. 150.000 per bulan. Biaya tersebut merupakan biaya akses internet selama 24 jam x 30 hari atau 720 jam per bulan.Apabila selama ini Anda mengakses internet maksimum 1 jam setiap hari dengan biaya Rp. 4.000 per jam, maka total pengeluaran untuk akses internet selama 25 hari juga akan senilai dengan Rp. 100.000 per bulan. Dengan biaya yang sama tersebut, terdapat selisih keuntungan sekitar 23 jam sehari atau total 695 jam sebulan jika Anda mengunakan alternatif di atas.

Kredit Lunak
Alternatif pertama maupun alternatif kedua mempunyai konsekuensi kelebihan dan kekurang yang berbeda-beda. Alternatif pertama menggunakan sumber daya yang telah paham dengan teknologi internet beserta pemecahan masalahnya, namun penentuan harga sangat tergantung dari kebijakan manajemen warung internet.
Sedangkan yang kedua, penentuan harga sangat fleksibel karena diatur oleh pemilik kos sehingga dapat dicari harga yang cocok untuk penghuninya. Namun seringkali pemilik kos sebagai penyedia jaringan internet belum paham dengan seluk beluk akses internet dan permasalahannya. Dibutuhkan waktu untuk belajar memahami pemecahan masalah jika suatu saat muncul.
Usulan penyediaan akses internet murah di kos-kosan, yang juga sempat disampaikan pada seminar Broadband Access di UNDIP pada tanggal 9 Desember yang lalu, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Kandatel Telkom Semarang melalui unit CDC (Community Development Center) atau lebih dikenal sebagai pengelola Program Kemitraan dan Bina Lingkungan menawarkan kredit superlunak untuk mendorong tumbuhnya akses internet dan penggunanya di kalangan masyarakat.
Dengan bunga kredit yang hanya sebesar 3% - 6% per tahun, diharapkan dapat membantu perorangan ataupun badan usaha dalam mempersiapkan perangkat keras yang dibutuhkan untuk mengembangkan akses internet jenis ini di lokasinya saat ini. Bukan hanya pemilik kos semata yang dapat memanfaatkan peluang ini, tetapi juga pemilik warung internet maupun warung telkom yang berada di sekitar rumah kos.
Pelajar dan mahasiswa sebagai penghuni kos tentunya akan banyak terbantu dengan adanya akses internet murah 24 jam di kamar kosnya, sedangkan penyedia akses internet juga ikut senang karena tercipta satu lini bisnis baru yang dapat diharapkan penghasilannya setiap bulan.

09 January 2007

Backbone Internasional Terganggu, Konten Lokal Ditunggu

(Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 7 Januari 2007)

Pada hari Rabu, 27 Desember 2006 yang lalu semua akses internet dari Indonesia ke luar negeri tiba-tiba terganggu, bahkan terhenti. Situs-situs terkenal seperti Yahoo.com, Google.com, Msn.com, dan lainnya gagal diakses. Beberapa pengguna internet yang bergantung pada beberapa webmail luar negeri dalam mengelola e-mailnya sempat kebingungan. Berkat adanya beberapa jalur POP3 dan SMTP yang masih bisa diakses dari beberapa provider e-mail, aktivitas menerima dan berkirim surat elektronik dapat sedikit terbantu namun bergerak lamban.


Gangguan ini juga dialami oleh pengguna internet di Asia yang ingin mengakses situs-situs yang servernya terletak di luar negaranya. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa kabel serat optik di bawah laut Taiwan akibat gempa 7.1 SR yang melanda Taiwan pada hari Selasa malam. Padahal kabel serat optik tersebut merupakan backbone jalur utama komunikasi internasional yang menghubungkan beberapa negara Asia ke luar negeri.
Pada kondisi itu, pengguna internet di negara-negara Asia terutama Indonesia praktis sempat terisolir dari website luar negeri. Mereka hanya dapat mengakses situs-situs yang lokasi servernya di dalam negeri karena jalur komunikasi di dalam negeri masih bekerja normal. Padahal tidak banyak situs lokal yang terbangun atau bahkan dapat diandalkan oleh pengguna internet di Indonesia.
Meskipun berbagai pihak akhirnya berhasil dilakukan re-route trafik ke jalur lain dengan kapasitas terbatas, sudah saatnya pengguna dan pengembang internet di Indonesia menyadari. Ketergantungan pada akses konten di luar negeri bukan hanya memperbesar biaya belanja bandwidth ke luar negeri tetapi juga mampu menghentikan aktivitas rutin ketika hal-hal yang tidak terduga semacam ini. Tak seorangpun pernah membayangkan jalur utama komunikasi internasional akan terganggu.

Membangun Konten Lokal
Berbagai kebutuhan pengguna lokal hendaknya mulai ditangkap oleh pengembang konten di dalam negeri, antara lain e-mail gratis, mesin pencari, situs pertemanan, weblog, konsultasi, dan masih banyak lagi. Bukan hanya karena strategi menghemat dollar untuk belanja bandwitdh luar negeri, tetapi juga karena saat ini adalah kesempatan yang tepat untuk membangkitkan konten lokal dan mempertipis ketergantungan konten luar.
Saat ini sudah ada beberapa penyedia e-mail gratis di Indonesia namun dengan berbagai keterbatasan yang sengaja dibuat antara lain hanya bisa diakses melalui web, menerima dan mengirim e-mail melalui POP3 dan SMTP hanya bisa dilakukan dengan ISP tertentu, atau akses yang sangat lambat. Iklan seringkali menjadi alasan sebuah provider hanya menyediakan web sebagai satu-satunya media untuk membaca e-mail. Padahal iklan juga dapat dikirim melalui e-mail berdasarkan kesepakatan yang disetujui pelanggan.
Beberapa tahun yang lalu, terdapat beberapa situs mesin pencari di Indonesia yang cukup populer namun akhirnya ditinggalkan pengguna lokal karena keterbatasan data dan teknik pencarian. Apabila pengembang dapat mengaktifkannya datanya kembali dan memperkaya teknik pencariannya, situsnya bisa menjadi alternatif mesin pencari terutama pada saat terisolir dari mesin pencari luar negeri.
Di tengah-tengah dominasi konten luar, Kandatel Telkom Semarang bersama salah satu pengembang konten lokal di Semarang berencana akan meluncurkan situs pojokKita.com pada awal tahun 2007. Situs ini membidik remaja sebagai target pengunjungnya. Dengan konten berupa konsultasi psikologi remaja (curhat cinta), remaja dan seks, serta permasalahan komputer, diharapkan dapat mengisi celah kebutuhan masyarakat serta menstimulasi pertumbuhan konten di Jawa Tengah berdasarkan animo lokal.

Jangan Sekedar Ada
Agar tidak mengulang sejarah kehancuran perusahaan dot com yang juga terjadi di Indonesia, keseriusan dalam mengelola dan performa yang disajikan harus menjadi fokus utama dalam memuaskan pengguna. Kebutuhan lokal harus menjadi alasan utama membangun konten di dalam negeri. Tanpa adanya kebutuhan dari masyarakat, suatu produk akan gagal setelah diluncurkan.
E-mail sebagai salah satu kebutuhan utama pengguna internet dapat menjadi konten lokal potensial yang dapat digunakan untuk menarik masyarakat. Ibarat toko-toko di sepanjang jalan Malioboro, konten-konten lokal tersebut harus dapat menarik perhatian para pengguna internet yang sedang berselancar di jalur internet dalam negeri. Berbagai fitur yang dibutuhkan oleh masyarakat jangan sampai tidak ter-cover di dalamnya.
Dukungan Telkom dan penyedia jasa layanan internet lainnya sangat dibutuhkan oleh pengembang konten lokal dalam pembangunan konten lokal yang diminati di dalam negeri, baik berupa mitra maupun sponsor. Dengan memanfaatkan jalur internet di dalam negeri yang telah terbangun antara Telkom, Indosat, dan Satelindo di dalam IIX (Indonesia Internet eXchange) dan memperbanyak peering (jalan tol internet) antar ISP, akses terhadap konten lokal akan lebih cepat dan trafik penggunaan link internasional dapat dikurangi sehingga anggaran belanja bandwidth luar negeri dapat direduksi.

02 January 2007

Optimalkan Situs Pemerintah Daerah

(Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 24 Desember 2006)

Melihat iklan kantor pajak di televisi mengenai penerapan e-Registration, e-Filling, MP3 (Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak), dan e-SPT timbul decak kagum atas keseriusan kantor pajak dalam memberikan akses dan kemudahan dalam berinteraksi dengan mereka melalui media internet.


Jika semula banyak pihak menganggap penerapan hal-hal yang berhubungan dengan digitalisasi prosedur pemerintahan belum bisa diterapkan di Indonesia, ternyata kantor pajak mampu membuktikan sebaliknya. Bukan hanya terbuka dalam menampilkan informasi mengenai prosedur yang ada di kantor tersebut, tetapi juga menyediakan aplikasi yang bisa diakses langsung melalui internet.
Seandainya hal tersebut juga terjadi pada situs-situs yang dibangun oleh setiap pemerintah daerah, tentunya hal ini akan memudahkan masyarakat dan dunia bisnis. Karena pada dasarnya semangat yang dibawa oleh penerapan e-Government adalah kemudahan dan transparansi. Masyarakat dapat dengan jelas mengetahui prosedur pengurusan dokumen-dokumen yang diinginkan dan mudah dalam mengurusnya karena berbagai formulir telah tersedia di website pemerintah daerah yang bersangkutan serta dapat diolah secara langsung melalui mekanisme elektronik yang ada di dalam website.

Masyarakat juga ikut dicerdaskan dengan adanya sistem seperti di atas karena berbagai prosedur termasuk lamanya waktu pengurusan dokumen dapat dengan jelas ditelusuri melalui media website. Hal ini akan memudahkan setiap kepala daerah mensosialisasikan kebijakan pemerintahannya yang bersih secara nyata.
Dengan adanya fasilitas forum diskusi online yang telah umum ada di internet, kepala daerah dan institusi juga dapat berkomunikasi dengan warganya tanpa harus membangun infrastruktur SMS premium. Namun kecenderungan yang ada di dalam beberapa situs pemerintah daerah, forum diskusi yang disediakan lebih ditujukan “dari rakyat untuk rakyat”. Masukan dan keluhan dilontarkan oleh rakyat namun dijawab sendiri oleh rakyat yang lain. Sehingga akhirnya menjadi ruang gosip antar warga, bukan media komunikasi pemerintah daerah dan rakyat secara dua arah.

Berbagai permasalahan yang ada dalam penerapan e-Government akan menjadi salah satu topik yang akan dibahas dalam seminar e-Government “Meningkatkan Layanan Publik dan Efisiensi Pemerintah” di UNIKA Soegijapranata pada tanggal 10 Januari 2007 oleh Program Magister Lingkungan dan Perkotaan, dengan pembicara utama pakar internet Onno W. Purbo.

Terbuka Akses bagi Wisatawan
Apabila pemerintah daerah serius dalam menggarap situsnya, banyak hal positif lain yang dapat diperoleh antara lain terbukanya akses bagi wisatawan untuk melihat potensi-potensi pariwisata yang dapat dikunjungi dan Asosiasi Pariwisata Indonesia (Asita) untuk menawarkannya. Dengan media website, informasi tidak lagi terbatas pada brosur yang hanya sanggup menampung beberapa lokasi saja dan gambaran yang luas atas setiap lokasi wisata. Karena media website mampu menampilkan berbagai dokumen multimedia, tentu saja tampilan yang disajikan akan lebih interaktif.
Setiap daerah dapat menampilkan lokasi wisata unggulannya untuk menarik wisatawan agar datang ke daerahnya. Selain itu, agenda budaya tahunan yang umumnya ditunggu oleh turis mancanegara sangat perlu untuk ditampilkan. Seringkali setiap daerah memiliki banyak acara budaya tahunan namun lupa untuk mempublikasikannya di dalam media internet.
Tentunya informasi yang ditampilkan bukan hanya dalam bahasa Indonesia saja, tetapi juga bahasa internasional karena sasaran pemasaran bukan hanya wisatawan domestik. Dengan informasi yang jelas dan detail, termasuk akses transportasi menuju ke lokasi wisata, tentunya akan membuat calon wisatawan merasa aman untuk menuju ke sana.
Selain pariwisata, terbuka juga potensi investasi yang ada di setiap daerah melalui situs pemerintah daerah. Informasi untuk dibutuhkan oleh para pengusaha, baik lokal maupun mancanegara, untuk datang kulakan ataupun menanamkan investasinya di setiap daerah. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, bahasa Inggris harus disediakan agar dapat diakses secara global. Sehingga investor asing juga dapat melihat peluang yang ada di masing-masing daerahnya.

Bahasa Inggris Penting
Saat ini beberapa situs pemerintah daerah memang telah menyediakan informasi dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Namun kecenderungan yang ada di setiap situs dua bahasa, informasi berbahasa Indonesia memang di-update secara berkala namun informasi berbahasa Inggris seringkali hanyalah basa-basi yang tidak pernah di-update sejak situs tersebut pertama kali diluncurkan.
Tidak heran, pemasaran daerah dengan cara konvensional, dengan mengunjungi negara lain atau mengundang negara lain, masih dipandang lebih efektif. Karena media internet yang seharusnya lebih memudahkan dalam menyampaikan informasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari setahun non-stop tidak digunakan secara maksimal.
Seyogyanya kantor pengelola yang membidangi hal ini di setiap daerah juga mempersiapkan tenaga untuk selalu memperbarui informasi juga dalam bahasa Inggris. Dengan tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia yang berkisar 18 juta penduduk atau 8,1% dari populasi (sumber: www.internetworldstats.com), sasaran pembaca situs lebih efektif jika bukan hanya ditujukan untuk domestik saja. Fokus ke pembaca internasional sangat penting untuk mendatangkan devisa luar negeri dari wisatawan asing maupun investor mancanegara.

Melihat Kebutuhan
Kesan seadanya atau bahkan “yang penting ada” dalam menyediakan website pemerintah daerah masih sering terasa. Apalagi di beberapa daerah menggunakan sistem beli-putus dalam pengadaan website pemerintah. Dengan membeli software yang telah jadi, umumnya berupa Content Management System (CMS) yang telah permanen fitur-fiturnya, berbagai kebutuhan pemerintah daerah tidak ter-cover di sana.
Seringkali bukan potensi daerah yang ditampilkan, namun berita-berita dari situs lain yang dimunculkan. Foto-foto kunjungan kerja ditampilkan, namun foto-foto lokasi wisata justru terabaikan. Hal ini bukan hanya menunjukkan pemerintah daerah yang bersangkutan belum siap, tetapi juga belum tahu manfaat yang dapat diperoleh melalui keseriusan pengelolaan website pemerintah.
Jika pengadaan situs pemerintah daerah berangkat dari kebutuhan di daerah yang bersangkutan, manfaat situs tersebut akan makin dapat dirasakan oleh pengunjungnya, baik masyarakat setempat maupun luar negeri. Contoh kebutuhan tersebut dapat berupa kebutuhan untuk menarik investor asing. Situs Gorontalo bahkan secara tegas menampilkan janjinya untuk memberikan kenyamanan investasi bagi investor yang mau datang ke sana, selain informasi berbagai potensi daerah yang bisa dikembangkan oleh calon investor.
Kebutuhan yang lain dapat berupa menarik wisatawan untuk datang ke daerahnya dengan menampilkan foto-foto lokasi wisata, akses transportasi menuju ke tempat wisata, lokasi hotel beserta tarif yang jelas, agenda budaya tahunan dan foto-foto kegiatannya.
Dan jangan lupa terhadap kebutuhan untuk melayani masyarakat setempat melalui informasi prosedur yang transparan beserta biaya yang jelas, formulir-formulir yang dapat di-download, informasi program-program pemerintah, dan penyediaan forum diskusi online antara pemerintah dan masyarakat.
Sedangkan untuk mengukur kinerja website tersebut, perlu ditambahkan web-counter atau web-stat dengan fasilitas bukan hanya melihat jumlah pengunjung semata tetapi juga melihat asal negara yang mengunjungi. Dengan begitu pemerintah daerah akan dapat mengevaluasi sejauh mana kebutuhan tersebut sesuai dengan pencapaian berdasarkan statistik pengunjung yang ada.