19 September 2020

Dunia Figital Generasi Z

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 19 September 2020)




Dengan mengajak Gen-Z untuk tetap berada di kebiasaan yang sama dengan generasi sebelumnya, membuat kepekaan mereka dalam menghadapi perubahan menjadi tidak tajam atau bahkan hilang.

DALAM buku berjudul Generasi Z karya David dan Jonah Stillman (2017), generasi Z atau disingkat Gen-Z disebut-sebut sebagai penduduk asli dunia yang disebut figital (fisik dan digital). Sebutan itu karena sejak lahir mereka telah dilengkapi dengan berbagai teknologi yang memungkinkan mereka untuk menemukan kesamaan berbagai aspek fisik dalam dunia digital. Bagi Gen-Z, dunia nyata dan dunia virtual dapat saling melengkapi dan saling menggantikan. Dengan kata lain, virtual menjadi bagian dari realitas generasi ini.

Gabungan antara fisik dan digital ini telah menjadi realitas baru bagi generasi ini. Tentunya pernyataan tersebut juga bergantung pada aksesibilitas dan interaksi Gen-Z terhadap teknologi yang tersedia selama ini. Namun batas pemisah antara fisik dan digital telah terkikis. Kedua hal tersebut tidak lagi dibandingkan karena keberadaannya di dunia nyata atau di dunia digital, tetapi berdasarkan kualitas, harga atau biaya, penjelasan, ulasan, dan peringkat atau penilaian yang selama ini dipahami oleh semua generasi namun dengan simbol-simbol yang berbeda.

05 August 2020

"The Great Reset" dalam Dunia Pendidikan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 5 Agustus 2020)



Semangat untuk memberikan yang terbaik dan optimisme terus dibangun, bisa menjadi bahan bakar yang tidak pernah habis, meskipun dilanda badai pandemi

SETELAH pandemi Covid-19 menjadi berkepanjangan, para ahli menyerukan “The Great Reset” atau pengaturan ulang tatanan kehidupan yang mendasar secara masif. Istilah tersebut merupakan judul buku dari Richard Florida, seorang professor di Universitas Toronto yang kembali dibicarakan oleh Klaus Schwab, Ketua Eksekutif World Economic Forum, pada Juni lalu. Meskipun bidang yang dibicarakan di dalam forum tersebut tidak menyebutkan dunia pendidikan secara spesifik, namun kelima bidang yang ditawarkan juga ikut terkait dengan dunia pendidikan, tidak terkecuali pendidikan tinggi.

Penggunaan teknologi informasi di dalam dunia pendidikan dalam masa pandemi, telah “meruntuhkan” tembok-tembok kelas yang dulu secara fisik menegaskan bidang ilmu, tingkatan pengetahuan, waktu yang disediakan dalam belajar, atau bahkan bentuk laporan evaluasi penyelenggaraan pendidikan. Rumusan yang paling tepat dalam memberikan solusi pendidikan tidak lagi dapat dipastikan, seperti halnya ketidakpastian vaksin Covid-19 akibat kemungkinannya untuk bermutasi secara cepat.

22 June 2020

Sesat Pikir Kuliah Daring

(Kompas, Opini 22 Juni 2020)


Generalisasi kualitas pembelajaran daring sungguh berbahaya untuk kemajuan pendidikan di negeri ini. Pemerintah dan DPR harus mendorong kampus-kampus untuk berkembang lebih baik dalam melayani pendidikan bangsa kita.

Pandemi dan kuliah daring adalah dua hal yang berbeda. Hal ini jelas secara makna harfiah meski terjadi pada saat yang sama. Memang kuliah daring sangat happening saat pandemi Covid-19 tiba-tiba menerjang dunia.

Akan tetapi, bukan karena pandemi kuliah daring baru tercipta. Kegiatan pembelajaran di dalamnya tidak bisa suka-suka ditentukan sendiri, apalagi ala kadarnya karena sejak bertahun-tahun yang lalu sudah berkembang aktivitasnya. Kualitas pembelajaran tetap harus maksimal, bahkan dengan usaha yang lebih, meski kita menyadari situasi saat ini tidak mudah.

Progresivitas Dunia Pendidikan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 22 Juni 2020)


Meskipun pandemi Covid-19 bukan hal yang patut disyukuri, namun sesungguhnya menciptakan sisi positif yang bisa direfleksikan.

AKIBAT pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, Unika Soegijapranata akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakan wisuda daring seperti kampus lainnya. Wisuda yang disebut sebagai selebrasi virtual ini menggunakan teknologi animasi deteksi wajah (face-tracking animation). Meskipun pemanfaatan teknologi ini bukan hal yang asing dalam dunia perfilman Hollywood, inovasi ini baru pertama kali terjadi dalam wisuda di Indonesia, bahkan di dunia.

Hampir setiap hari muncul berbagai tawaran webinar yang bisa diikuti tanpa berbayar. Berbagai keahlian dan wawasan haru secara serempak dibagikan dalam seminar-seminar daring tersebut. Fenomena ini seperti melihat semua tokoh dan ahli keluar dari sarangnya. Banyak masyarakat yang mendapatkan manfaatnya dan acara-acara tersebut secara rutin. Sebuah kreativitas dan kebiasaan yang mungkin belum dilakukan sebelumnya pada masa normal, bahkan di institusi pendidikan sekalipun.

05 June 2020

Pembelajaran Daring untuk New Normal

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 4 Juni 2020)


"Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas"

SKENARIO New Normal (kenormalan baru) yang disiapkan oleh pemerintah beserta tahapan-tahapan pemulihan aktivitas di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, menyiratkan akan adanya pembukaan kembali sekolah dan kampus dalam waktu dekat. Banyak pihak sebetulnya juga telah berharap bisa segera beraktivitas normal, meskipun juga di sisi lain tidak menginginkan ada peningkatan penyebaran Covid-19 seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Jerman.

Praktik pelaksanaannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan dan tidak mungkin sama dengan sebelum masa pandemi. Apalagi kita juga tahu, belum ada vaksin yang benar-benar terbukti mampu menyembuhkan dari Covid-19, selain stamina dan peningkatan imun tubuh. Jadi, penerapan protokol kesehatan seperti menjaga jarak aman, mengenakan masker, dan mencuci tangan menjadi syarat dalam kondisi kenormalan baru yang akan diterapkan.
Dalam berbagai infografik kenormalan baru, bidang pendidikan dirancang untuk mulai dibuka pada tahapan ketiga melalui penerapan protokol kesehatan yang ketat dengan mengatur kehadiran siswa secara bergiliran, agar syarat jarak aman dan kapasitas ruang dapat terpenuhi. Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas. Pertama, kapasitas kelas dimungkinkan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya karena jarak antarsiswa akan mengurangi kapasitas kelas pada umumnya. Konsekuensinya adalah biaya penyelenggaraan setiap kelas akan menjadi lebih besar dari sebelumnya, karena jumlah pengajar maupun ruang mengalami peningkatan. Sekolah atau kampus yang telah lama menerapkan kelas dalam jumlah kecil, tentu akan lebih mudah dan diuntungkan dalam situasi ini.

12 May 2020

Gamifikasi Pembelajaran Daring

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 12 Mei 2020)


HARUS diakui, mulai muncul ungkapan kebosanan dari banyak orang yang menjalani pembelajaran daring, setelah hampir mendekati dua bulan ini. Namun bukankah ini juga dialami di dalam perkuliahan tatap muka ketika kelas tidak berhasil terbentuk kemistrinya, antara pendidik dan peserta didiknya? Pembelajaran daring bukan hanya bicara tentang infrastruktur digital semata, melainkan juga teknik penyampaian materi yang tepat maupun yang sesuai dengan karakter pendidik dan siswanya. Ada seorang guru yang pandai merangkai cerita pengalamannya pada masa yang lalu, sehingga siswanya tidak pernah merasa bosan mendengarnya setiap kali bertemu, bahkan siswa merasa mendapatkan wawasan baru. Namun ada guru yang sama-sama menceritakan masa lalu, tetapi siswanya tidak merasa terbantu bahkan muncul perasaan jemu setiap kali mendengar cerita sang guru.
Di sisi lain, ada juga guru yang dengan penguasaan berbagai teknologi, namun justru membuat siswa merasa terbebani. Namun ada juga guru yang sama-sama menguasai berbagai teknologi, tetapi berhasil membangkitkan hasrat dan motivasi siswanya setiap kali bertemu. Keduanya merupakan contoh keahlian yang sama-sama memanfaatkan kekayaan pengalaman pribadi maupun kekayaan penguasaan teknologi. Cerita masa lalu yang terceritakan ke siswa bukan hanya disampaikan dengan penuh semangat, namun dikemas dalam plot cerita menginspirasi, sehingga mampu menarik perhatian dan fokus siswa.
Begitu juga dengan teknologi, tidak semata-mata soal demonstrasi kehebatan penguasaan teknologi atau bahkan yang viral dan terbaru, namun kemampuan mengemas teknologi dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi siswa. Lain lagi dengan penugasan saat pembelajaran. Pada awal-awal masa pembelajaran daring, banyak siswa mengeluhkan terlalu banyak tugas yang diberikan oleh guru pada saat pembelajaran daring, bahkan sering hanya tugas dalam setiap kali pertemuan. Hal ini menyebabkan kesan pembelajaran daring menjadi tidak menyenangkan akibat banyak pendidik yang hanya memberi tugas tanpa ada penjelasan. Akibatnya secara ekstrem mereka akan menyukai guru atau proses pembelajaran yang meniadakan penugasan.