09 April 2016

Embed Video YouTube di WordPress

Beberapa kali dalam satu tahun terakhir ini, plugin Shockwave Flash gagal dijalankan di web browser terutama Chrome. Hal ini tentunya membuat beberapa kode HTML di WordPress yang dulunya berjalan baik menjadi gagal menampilkan video yang kita inginkan. Dulunya, kode seperti di bawah ini bisa berjalan dengan baik. Tetapi karena plugin Shockwave Flash kadang-kadang berhenti, maka yang tampil seringkali pesan "Couldn’t load plugin" dan video tidak dapat diputar bahkan dilihat gambar pratinjaunya.
<div> <object> <param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/0bl9qevheS0;hl=en" /> <embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/0bl9qevheS0;hl=en"> </embed> </object></div>
Jika mengandalkan kode yang disediakan oleh YouTube dengan menggunakan kode <iframe> maka kode template WordPress yang mengambil gambar thumbnail menjadi tidak berfungsi.
<iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/0bl9qevheS0?rel=0" width="560"> </iframe>
Perlu sedikit modifikasi agar kode untuk mengambil gambar thumbnail dan video dapat dimainkan meskipun plugin Shockwave Flash sedang berhenti, yaitu dengan mengubah alamat pada tag embed yang semula menggunakan http dan v di dalamnya menjadi https dan embed.
<div> <object> <param name="movie" value="https://www.youtube.com/v/0bl9qevheS0;hl=en" /> <embed src="https://www.youtube.com/embed/0bl9qevheS0?rel=0" /> </object></div>
Kode tersebut akan menampilkan video dalam format HTML5, bukan Flash. Saat ini, dukungan terhadap HTML5 sudah sangat luas diterapkan pada banyak web browser.
Catatan di atas untuk mengingatkan kembali penulis jika ada video yang tidak berjalan baik di dalam WordPress. Semoga bisa bermanfaat juga bagi pemilik blog WordPress lainnya yang memiliki kasus serupa. (Ridwan Sanjaya)

---
Ketika mengakses video di YouTube muncul tulisan Couldn't load plugin, coba tambahkan &nohtml5=False pada alamat sehingga menjadi seperti: https://www.youtube.com/watch?v=p2JCqSk1Gp0&nohtml5=False

30 March 2016

Berdamai dengan Teknologi

(Suara Merdeka - Wacana Nasional, 28 Maret 2016)
DAMPAK masuknya berbagai bisnis transportasi yang memanfaatkan teknologi seperti Uber dan Grab Taxi tampaknya cukup membuat terpukul para pelaku bisnis transportasi yang ada saat ini. Kemudahan dalam pemesanan, kemudahan dalam melacak posisi kendaraan yang akan mengantar penumpangnya, dan penerapan tarif yang lebih murah dibandingkan layanan sejenis tentunya menggoda konsumen untuk mencoba.

Hal ini tidak seharusnya disikapi dengan perasaan terancam, kalah, atau tertinggal atas keberadaan layanan yang memanfaatkan teknologi informasi. Dalam dunia bisnis, termasuk transportasi, inovasi kompetitor merupakan sesuatu yang wajar dan terus akan berulang.

Dalam salah satu broadcast pesan instan yang bersumber dari nextshark.com diceritakan bahwa pada saat press conference dalam rangka akuisisi Nokia oleh Microsoft, CEO Nokia menyampaikan kalimat terakhirnya We didn't do anything wrong, but somehow, we lost. Nokia merasa tidak melakukan suatu kesalahan dalam berbisnis namun pada akhirnya jawara ponsel tersebut kalah oleh persaingan dan diakuisisi Microsoft.

Nokia tampaknya melewatkan kesempatannya dalam belajar mengikuti perkembangan zaman pada saat masih berjaya. Kekalahannya karena gagal mengubah diri dan mengikuti perubahan. Nokia merasa cukup mapan dengan teknologi yang dikembangkan dan luput mengamati perkembangan teknologi yang lebih murah dan lebih menarik. Alhasil, teknologi Nokia dianggap kuno, lamban, tidak menarik lagi.

Kekalahan ini sering disebut-sebut berbagai pihak dalam beberapa minggu ini sebagai akibat dari munculnya disruptive innovation yang dikembangkan oleh kompetitor. Konsep disruptive innovation meskipun sudah dikenalkan pada tahun 1995 oleh Clayton M Christense, namun baru digaungkan oleh para pelaku bisnis dalam satu tahun terakhir ini di Indonesia tetapi dengan pemahaman yang salah.

Pencetus istilah tersebut Clayton M Christensen bersama dua rekannya dalam Harvard Business Review akhir tahun 2015 menerangkan bahwa Uber Taxi atau sejenisnya lebih cenderung merupakan sustaining innovation dan bukan tergolong sebagai disruptive innovation karena tidak menciptakan pasar baru dan merupakan penyempurnaan inovasi yang sudah ada, terutama dalam menekan biaya operasional.

27 February 2016

Pemeringkatan Perguruan Tinggi di Indonesia Tahun 2015 versi Kementerian Ristek dan Dikti

Sudah lama tidak menulis di blog ^_^ Terakhir menulis di sini ternyata November tahun 2015 saat rubrik Teknologi masih ada di Suara Merdeka. Tulisan kali ini sekedar berbagi informasi dari Kementerian Ristek dan Dikti yang beberapa waktu dirilis: versi lengkap Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia Tahun 2015.
Peringkat Perguruan Tinggi 2015 versi Kemenristekdikti
Meskipun sudah diumumkan pada 17 Agustus 2015, namun versi lengkap peringkat 3320 Perguruan Tinggi ini baru muncul di awal Februari 2016. Masyarakat kemudian bertanya-tanya dasar dari pemeringkatan tersebut.

Jika dilihat dari presentasi Dr. Agus Indarjo (Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi), peringkat tersebut ditentukan dari Kualitas Dosen (12%) dan Jumlah Dosen (18%), Kualitas Manajemen (30%), Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan (10%), serta Kualitas Kegiatan Penelitian (30%) yang bisa dilihat pada gambar 1 di akhir artikel.

Seperti halnya dengan peringkat-peringkat lain dengan segala kelebihannya, peringkat dari pemerintah ini juga punya data yang tidak dimiliki oleh peringkat lain karena diambil dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD DIKTI) yang diakumulasi dari laporan wajib atas pengelolaan setiap semester oleh Perguruan Tinggi sejak dahulu kala dan baru dimanfaatkan untuk pemeringkatan. Selain itu juga ada data dari Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Simlitabmas) yang harus dimasukkan oleh peneliti Perguruan Tinggi jika ingin mendapatkan hibah Penelitian maupun Pengabdian Masyarakat.

Dengan data-data tersebut, dihasilkan 11 Peringkat Perguruan Tinggi Terbaik yang diumumkan pada 17 Agustus 2015 yang lalu. Peringkat tersebut memang hanya diisi oleh 11 Perguruan Tinggi Negeri yang dalam pengelolaannya didukung oleh dana pemerintah (Gambar 2). Sedangkan untuk Perguruan Tinggi Swasta, juga dihasilkan 11 Peringkat Perguruan Tinggi Swasta Terbaik berdasarkan semua kriteria (Gambar 3). Peringkat ini bisa berubah dari tahun ke tahun, tergantung dari perkembangan dan aktivitas perguruan tinggi di tahun berikutnya.

Namun masa depan setiap mahasiswa tentunya tidak hanya ditentukan oleh tinggi-rendahnya peringkat perguruan tingginya semata, tetapi juga bagaimana atmosfer akademik dan non-akademik yang dibangun di sana, keaktifan mahasiswa itu sendiri, wawasan dalam pergaulan di perguruan tinggi, serta kuasa Tuhan atas diri kita. 


Gambar 1. Indikator Pemeringkatan

Peringkat 11 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia

Peringkat 11 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Indonesia

03 December 2015

Sambut Pilkada dengan Game Buatan Sendiri

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi, 30 November 2015)

Clipboard10

Dalam sepekan ke depan, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 9 Desember akan memasuki masa tenang. Berbagai bentuk sosialisasi dari masing-masing calon pasangan kepala daerah sampai dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) berkejaran menghiasi berbagai ruang publik, termasuk media cetak dan media sosial di internet.

Beberapa tim sukses bahkan tampak gencar melakukan sosialisasi di Facebook dan blog untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan, termasuk menayangkan klip video pasangan calon kepala daerah dan program kerjanya melalui YouTube. Penggunaan media intemet merupakan jalan keluar karena terlalu banyaknya media promosi konvensional yang bertebaran di jalanan kota sudah tidak lagi bisa digunakan untuk mempromosikan program-program yang diusung dalam pilkada.

Bahkan saat ini tampak berbagai media promosi konvensional lebih mengandalkan bentuk visualisasi yang mudah diingat oleh pengguna jalan, dengan menonjolkan bentuk angka atau huruf yang mencolok dan menjadi ciri khas pasangan calon wali kota.

Bagi pemilih pemula dan anak muda, teknik promosi seperti itu seringkali tidak mempunyai arti apapun dalam penentuan keputusan. Tanpa adanya informasi dan data yang dapat diserap oleh mereka dapat membuat mereka semakin apatis apalagi berkepentingan untuk memilih dalam Pilkada.

14 April 2015

Antiplagiasi Makin Kuat Jasa Skripsi Makin Berat

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi, 13 April 2015)

Turnitin02 Saat ini makin banyak perguruan tinggi yang melihat plagiasi tidak semata-mata sebagai pelanggaran dalam dunia pendidikan, tetapi juga memperlihatkan mutu dalam tulisan yang dihasilkan para akademisinya.

Sosialisasi antiplagiasi, workshop penggunaan perangkat lunak antiplagiasi, sampai pendampingan dalam teknis penulisan referensi semakin digalakkan oleh perguruan tinggi, termasuk di institusi penulis.

Unit Pelaksana Tugas (UPT) Perpustakaan seringkali menjadi unit yang berperan dalam implementasi kebijakan antiplagiasi karena pada zaman digital sekarang ini, perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat pinjam-meminjam pustaka.

Beberapa perpustakaan di perguruan tinggi sudah bertransformasi dan berperan lebih penting dalam mengedukasi masyarakat kampus dalam tata cara penulisan yang baik, terutama terkait dengan penulisan pustaka-pustaka yang digunakan.

12 October 2014

Dampingi Anak saat Gunakan Gawai

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi 6 Oktober 2014)

Dampingi Anak saat Gunakan Gawai 

Peranti digital yang biasa disebut gadget atau gawai telah menjadi teman bagi banyak orang, baik pada saat bekerja maupun pada waktu senggang. Bahkan anak-anak kini telah menggunakan gawai seperti smartphone dan tablet sejak masih kecil, pada saat orang tuanya juga belum lama mengenal peranti tersebut.

Seringkali gawai menjadi solusi untuk menenangkan anak kecil yang umumnya aktif pada saat mereka sedang rewel, baik dengan menayangkan video secara online maupun dengan menggunakan berbagai permainan yang telah diunduh dari toko aplikasi.

Umumnya, upaya memanfaatkan gawai untuk menenangkan anak cukup berhasil. Tak heran bila cukup sering terlihat, pada saat keluarga sedang makan, anak tampak tenang melihat tayangan dalam gawai. Tidak ada kerewelan dan sang anak juga menjadi mudah disuapi jika sembari memainkan gawai.

Namun, ketergantungan pada gawai juga bisa menimbulkan persoalan tersendiri. Selain tidak kenal waktu tidur dan waktu belajar, kecenderungan untuk terikat pada gawai akan menimbulkan dampak negatif sosial bagi penggunanya, di antaranya ancaman pornografi.

Kejengkelan orangtua yang tidak dapat mengatur anaknya saat mereka sedang memegang gawai juga menjadi permasalahan yang mengganggu. Proses edukasi mengenai tanggung jawab anak di dalam keluarga juga menjadi tidak berjalan.

Perlu dilakukan langkah-langkah untuk mencegah dampak negatif semacam itu berjalan lebih jauh. Paling tidak, terdapat enam prinsip yang perlu dilakukan untuk pendampingan anak pengguna gawai.

Prinsip yang pertama adalah Friends of Mine atau orangtua menjadi teman anak yang dapat membicarakan topik-topik terkait. Bahkan, seringkali orangtua dituntut untuk dapat mengimbangi pengetahuan tentang gawai dan dunia digital agar bisa tetap saling terhubung satu sama lain.

Dengan begitu, anak menemukan teman diskusi di dalam keluarga dan bukan dengan orang-orang asing yang hanya ditemuinya di dunia maya. Namun, dibutuhkan kesediaan orangtua untuk mempelajari hal-hal yang baru, termasuk teknologi baru.