02 February 2019

Ketika (Big) Data Berkuasa

(Tribun Jateng, Opini - 29 Januari 2019)


PENGARUH teknologi informasi dalam mengubah peta bisnis di berbagai belahan dunia telah banyak menjadi fokus pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir ini. Bisnis di bidang transportasi, penginapan, tiket wisata, hiburan, pakaian, makanan, dan finansial mendapatkan kejutan yang mungkin tidak terprediksi sebelumnya. Dalam bidang tertentu bahkan terjadi penolakan di berbagai tempat, terutama melalui regulasi. Namun tampaknya gelombang inovasi tersebut tidak terhenti.
Keberadaan teknologi dalam inovasi di berbagai bidang tersebut sebenarnya terkait dengan pengelolaan data yang sebelumnya diolah secara manual kemudian digantikan oleh aplikasi. Sebagai contoh, keberadaan sopir taksi dan penumpangnya jika dahulu dicocokkan oleh operator layanan taksi kini berubah menjadi aplikasi, yang mempertemukan data GPS sopir taksi dan penumpangnya. Begitu juga dengan tiket perjalanan yang dahulu dibantu oleh karyawan agen perjalanan, kini berganti menjadi aplikasi yang menelusuri sekaligus membandingkan data moda transportasi dan harga dari berbagai sumber.
Bahkan jika diolah lebih lanjut, data yang dimiliki oleh pengelola aplikasi dapat berkembang menjadi informasi deskriptif atau grafis yang menggambarkan waktu-waktu puncak, lokasi-lokasi favorit yang dikunjungi, pilihan moda transportasi, bahkan rute-rute yang sering digunakan oleh semua pengguna maupun pribadi demi pribadi. Kekuatan data ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemilik bisnis untuk mempertajam strateginya ataupun meningkatkan kinerjanya.

25 January 2019

Dilema seorang penemu

(Beritagar, Telatah - 23 Januari 2019)

Tahun 2018 yang penuh antusiasme dan hingar bingar teknologi baru maupun cara-cara baru dalam berbagai aktivitas masyarakat modern ternyata menyisakan tanda tanya keberlanjutannya. Namun filsuf Yunani Heracletos (540-480 SM) telah jauh-jauh menyatakan bahwa nothing endures but change, atau tiada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Artinya, inovasi-inovasi yang tercipta hanya baru pada masanya saja dan tetap bisa tergantikan dengan yang lebih baik. Tidak ada yang abadi.

Mengikuti perubahan yang tiada henti seringkali menciptakan kelelahan bahkan keputusan untuk berhenti. Obrolan selama perjalanan pulang dengan sopir taksi bandara yang berusia 62 tahun menyiratkan bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi mengikuti perkembangan taksi sekarang ini. Meskipun setahun yang lalu taksinya juga telah dipasang aplikasi pemesanan secara daring, akhirnya dia menyerah dan mengambil keputusan untuk berhenti dari taksi konvensional, kemudian bergabung dengan taksi bandara yang tidak dikejar-kejar setoran.

Alasannya, dia merasa cara yang baru tersebut lebih cocok untuk generasi yang baru. Meskipun dirinya sudah berusaha belajar sekuat tenaga, tetap saja tidak tak satupun kebiasaan baru bisa dijalaninya. Ia memilih menepi dari hiruk pikuk arus utama dan menjalani pola kerja yang lebih sesuai dengan dirinya, serta melayani captive market yang seringkali juga memilih tidak berubah atau tidak bisa berubah.

Artikel ini selanjutnya dapat dibaca di situs Beritagar...

16 December 2018

Tatanan Dunia Baru

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 Desember 2018)

SM-15_12_2018-Tatanan-Dunia-Baru-_hal_04

BEBERAPA waktu lalu salah satu calon presiden menyampaikan keprihatinannya akan masa depan generasi muda yang memilih menjadi pengemudi ojek online daripada menjadi pengusaha, pilot, atau sejenisnya. Sebagian masyarakat kemudian bereaksi dengan menekankan informasi terkait penghasilan yang diperoleh pengemudi ojek online. Artinya, penghasilan yang didapatkan oleh pengemudi ojek online bukanlah sekedar angka yang minimal untuk kehidupan berkeluarga.

Namun hal ini sepertinya juga dirasakan oleh banyak pihak yang melihat dan membandingkan profesi pilihan generasi muda saat ini dengan profesi yang dipilih oleh generasi sebelumnya pada masanya dahulu. Sesuatu yang dulunya dianggap tidak perlu menjadi pekerjaan, kini menjadi profesi yang digemari anak muda. Sebagai contoh, jika sebelumnya merekam aktivitas berlibur merupakan kegiatan dokumentasi pribadi yang dibuka secara terbatas, saat ini telah terbuka untuk publik dan menjadi pekerjaan dengan nilai ratusan juta sampai puluhan miliar rupiah.

21 September 2018

“New Normal” dalam Pendidikan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 September 2018)

SM-15-September-2018

"Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi."

BEBERAPA waktu lalu kita dikejutkan oleh dua nama calon wakil presiden yang terpilih sebagai pendamping dua calon presiden. Bahkan ada nama calon wakil presiden yang belum pernah muncul sebelumnya dan merupakan usulan baru dalam beberapa jam terakhir sebelum diumumkan. Meskipun banyak yang terkejut, akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang normal dan harus berjalan. Titik normal baru yang diterima oleh masyarakat tersebut menjadi hal yang kemudian dipahami sebagai kondisi yang wajar.

Berbagai perubahan yang terus terjadi ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai “the new normal”. The new normal merupakan terminologi yang dipakai pada tahun 2009 oleh Philadelphia City Paper saat mengutip Paul Glover dalam menjelaskan kondisi yang semula dinilai tidak umum menjadi sesuatu yang kemudian dianggap biasa, wajar, dan akhirnya diterima secara luas. Pada saat itu, dunia bisnis mencari titik normal yang baru setelah terjadi krisis keuangan pada 2007- 2008 dan resesi global pada 2008- 2012.

Kejutan serupa juga saya alami saat diundang ke Harvard University pada Juli lalu. Saat itu ada kesempatan mendatangi sebuah restoran di kota Boston yang bernama Spyce. Restoran ini memiliki pilihan menu masakan dari berbagai negara yang dapat dipesan sesuai dengan selera dan pantangan pemesannya. Setiap menu masakan juga sudah dihitung kalorinya dan semua pesanan itu dimasak di depan pemesannya dengan urutan berdasarkan antrean.

16 May 2018

Library 4.0 untuk Perpustakaan Masa Depan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 Mei 2018)

SM-15_05_2018-Library-4.0

PERPUSTAKAAN telah mengalami beberapa kali evolusi dalam perkembangannya. Jika semula perpustakaan berfokus pada koleksi pustaka dan layanan, kini telah bergeser pada nilai tambah (Noh, 2015).

Dengan demikian, perkembangan perpustakaan pada tahapan berikutnya sangat mungkin terjadi dan bisa diciptakan. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan pemustaka dan perkembangan teknologi informasi. Harapannya, berbagai penyesuaian dapat membuat perpustakaan semakin berharga dan memberi dampak yang semakin besar bagi dunia pendidikan.

Keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), big data, internet of things (loT), layanan berbasis cloud, dan alat-alat cerdas, sebagai ciri dari Revolusi Industri 4.0 akan membuat banyak perubahan dunia pendidikan (Grewal, Motyka, & Levy, 2018). Akibatnya, pengelola perpustakaan di berbagai belahan dunia menebak-nebak terobosan berikutnya yang harus dilakukan.

Hal tersebut tidak ada yang salah. Hanya saja, melihat kebutuhan nyata yang ada di dalam dunia pendidikan justru harus menjadi fokus dalam pengembangan perpustakaan. Teknologi informasi dapat mewujudkan apabila kebutuhan dan solusi yang dirancang sudah mulai terbentuk.

29 April 2018

Samudera Biru bagi Lulusan Perguruan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 17 April 2018)

    SM-17_04_2018-Samudra-Biru-bagi-Lulusan-Perguruan-Tinggi

      "Pertempuran dengan petahana yang diilustrasikan sebagai Samudera Merah (Red Ocean) menjadi tidak perlu terjadi bahkan dapat menciptakan ruang berkembang baru yang berpotensi melampaui kompetisi yang ada"

      DALAM beberapa waktu terakhir ini dunia pendidikan tinggi selalu diingatkan adanya kemungkinan perubahan radikal yang dapat sewaktu-waktu mengubah peta persaingan dalam berbagai bidang yang juga berdampak pada eksistensi lulusan perguruan tinggi. Kata kunci inovasi disruptif dan industri 4.0 semakin sering disebut dalam berbagai pertemuan, seminar, bahkan menjadi kebijakan perubahan dalam organisasi besar.

      Hal ini punya tujuan baik untuk mengingatkan kita semua agar dapat mengantisipasi dunia yang sangat cepat berubah (volatile), tidak mudah diprediksi (uncertain), semakin rumit (complex), dan multitafsir (ambiguous) yang menurut Whiteman (1998) diistilahkan sebagai VUCA world.

      Menurut Nathan Bennett dan G James Lemoine dalam Harvard Business Review (2014), kondisi tersebut juga harus dihadapi dengan strategi VUCA atau cara pandang yang jauh ke depan (vision), pemahaman yang mendalam (understanding), ketajaman dalam melihat peluang (clarity), dan kelincahan dalam bergerak (agility).

      Hal yang sama juga pernah ditulis oleh Sun Tzu dalam buku Art of War (Feng, 2007), pemahaman akan medan pertempuran akan membuat seorang jenderal dapat mengatur strateginya tanpa harus mengorbankan banyak pihak.