16 February 2018

E-Book baru, Antisipasi Plagiasi dengan Software Anti-Plagiasi

Penerbit: SCU Knowledge Media, 2018

buku-antisipasi-plagiasiSemakin tingginya kesadaran untuk menghasilkan karya orisinal membuat software pemeriksa plagiasi semakin dibutuhkan. Seringkali karena kurangnya perhatian atau pengetahuan yang memadai akan plagiasi, seseorang terjebak dengan tuduhan plagiasi yang sebetulnya belum tentu dia lakukan. Buku ini akan membahas penggunaan perangkat lunak anti-plagiasi Viper, Plagscan, Turnitin, Unicheck, baik penggunaannya secara personal maupun organisasi. Beberapa software anti-plagiasi tersebut bahkan dapat diintegrasikan dengan platform e-learning Moodle yang akan memudahkan dalam pemeriksaan tugas sekolah atau perkuliahan sehari-hari. Buku ini cocok untuk dosen, guru, mahasiswa, pelajar, pengelola platform e-learning, dan penulis.

Selanjutnya »

02 February 2018

Masa Depan Financial Technology

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 1 Februari 2018)

SM-01_02_2018-Masa-Depan-Financial-Technology

PERKEMBANGAN internet yang demikian cepat dan perubahan gaya hidup generasi muda membawa dampak pada dunia finansial melalui teknologi keuangan yang dikembangkan secara luar biasa di Indonesia. Namun sejarah mencatat, 10 tahun yang lalu pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 20 juta, sangat jauh dari sekarang yang mencapai 132 juta pengguna.

Saat ini, dengan pengguna internet yang jumlahnya melebihi penduduk negara-negara Asia Tenggara, bahkan sebagian besar negara-negara di Asia, Indonesia menjadi pangsa pasar yang besar, baik dalam hal penggunaannya maupun pengembangannya.

Setelah e-commerce laris manis dan menjadi primadona transaksi perdagangan dalam beberapa tahun terakhir, pasar keuangan digoyang dengan kehadiran bisnis-bisnis rintisan baru dalam bidang keuangan.

Konsep dan paradigma mengenai dunia keuangan yang baru menjadi senjata bagi banyak pengusaha muda untuk memulai usaha ini. Meskipun dianggap baru, Bill Gates pernah menyampaikan pada 1994, ”Banking is necessary. Banks are not.”

Hal itu menggambarkan, aktivitas perbankan meskipun dibutuhkan, wujud fisiknya tidak lagi penting. Pernyataan yang dulu dinilai kontroversial itu seperti mengingatkan dunia perbankan untuk bersiap-siap menyesuaikan diri dengan perubahan yang radikal. Jika tidak, akan tergantikan oleh bentuk baru dari perbankan.

20 January 2018

Melangkah Maju Bersama

(Tabloid Warna, edisi 15/Januari 2018)

Warna-15_01_2017-Melangkah-Maju-Bersama

“Setiap individu memiliki peran dalam mewujudkan program-program yang dicanangkan oleh organisasi melalui talentanya masing-masing”

Perubahan yang sangat cepat pada masa sekarang ini, telah menciptakan berbagai bisnis baru yang tidak terbayangkan sebelumnya. Siapa yang dulu pernah membayangkan pemilik-pemilik motor dari rumahnya masing-masing bersedia dihimpun untuk menerima tugas mengantar seseorang melalui sebuah aplikasi ponsel dan menerima honor untuk setiap tugas yang dikerjakannya? Kini Gojek, Uber, dan Grab sudah menjadi hal yang biasa kita lihat sehari-hari bahkan nilai perusahaan mereka melebihi perusahaan transportasi sejenis yang sudah ada.

Fenomena sejenis juga dapat dilihat dari pemilik kamar kamar atau rumah yang bersedia disewa oleh orang lain melalui aplikasi ponsel seperti AirBNB, Airy Rooms, ZenRooms, RedDoorz, Agoda ataupun Traveloka. Meskipun perusahaan-perusahaan ini tidak memiliki aset kamar, rumah, maupun hotel, transaksi finansial yang dihasilkannya telah melebihi usaha perhotelan yang sudah berdiri sebelumnya.

Satu lagi usaha yang akhir-akhir ini sering muncul di iklan radio yaitu UangTeman.com berhasil menghimpun para pemilik-pemilik dana yang jumlah dananya mungkin tidak besar namun dalam jumlah banyak. Mereka membantu orang-orang yang ingin meminjam dana namun dalam jumlah yang tidak terlalu besar dan tidak mau direpotkan dengan prosedur peminjaman yang rumit. Bisnis yang termasuk dalam kategori Financial Teknology (fintech) akan banyak mengubah dunia perbankan di masa yang akan datang.

02 January 2018

Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional, 2 Januari 2018)

SM-2_01_2018-Self-Disruption-Perpusatakaan-perguruan-Tinggi

“Pengelola perpustakaan dituntut melakukan self-disruption untuk dapat mempertahankan posisinya sebagai paru-paru pengetahuan di perguruan tinggi”

DALAM beberapa tahun terakhir ini istilah Disruptive Innovation menjadi semakin populer sejak kemunculan transportasi online, penginapan online, tiket online, dan bisnis-bisnis online sejenisnya. Meskipun istilah ini sudah mulai dikenalkan pada tahun 1995 dalam Harvard Business Review (Bower & Christensen, 1995) dan dipublikasikan dalam buku The Innovatorís Dilemma dua tahun kemudian (Christensen, 1997), pembahasan mengenai teori ini secara meluas baru muncul akhir-akhir ini.

Dalam bukunya, Christensen menekankan bahwa produk dalam kelompok disruptive innovation umumnya lebih murah, lebih sederhana, lebih kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Produk tersebut awalnya menyasar pada kelompok kecil pengguna, namun akhirnya dapat menggantikan produk yang dikembangkan oleh pemimpin pasar setelah mengalami berbagai peningkatan kualitas dan penyesuaian kebutuhan.

Namun Christensen menekankan bahwa peningkatan performa secara berkelanjutan yang umumnya dilakukan oleh pemimpin pasar pada suatu produk, bukanlah disruptive innovation melainkan sustaining innovation. Sebagai incumbent, inovasi yang bertahap seringkali tidak cukup lagi untuk menghadapi perubahan radikal yang terjadi saat ini. Dibutuhkan kemauan untuk self-disruption agar sebuah organisasi dapat bertahan.

Contoh dalam dunia pendidikan, perpustakaan di perguruan tinggi seringkali menghadapi kenyataan pahit bahwa jumlah mahasiswa dan dosen yang berkunjung ke perpustakaan semakin lama semakin menurun. Bahkan di beberapa perguruan tinggi, beberapa pustakawan beralih divisi karena kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di perpustakaan tidak lagi setinggi yang dulu.

02 December 2017

Pembelajaran Kolaboratif Era Digital

(Suara Merdeka, Wacana Nasional, 2 Desember 2017)

SM-2_12_2017-Pembelajaran-Kolaboratif-Era-Digital

PERKEMBANGAN teknologi dengan kecepatan tinggi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal pembelajaran. Generasi millenial dan centennial yang lahir pada saat teknologi sudah berkembang membuat ponsel cerdas, komputer tablet, dan internet menjadi perangkat biasa yang digunakan sehari-hari.

Pemahaman tentang teknologi informasi dan komunikasi yang lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya membuat mereka terbiasa mencari jawaban tidak selalu dari orang yang lebih pintar atau lebih dewasa, namun melalui teknologi yang secara cepat dapat memberikan jawaban, seringkali lebih komprehensif.

Hal ini menuntut perubahan teknik pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru atau dosen, menjadi berpusat pada siswa atau mahasiswa.

Meskipun konsep Student-centred learning (SCL) sudah muncul dua dekade yang lalu, penerapannya makin dimudahkan setelah keberadaan teknologi informasi. Dalam SCL, guru atau dosen merupakan dirigen dalam orkestra pencarian pengetahuan. Meskipun tidak mendominasi kelas, para pendidik menguasai gambar besar peta pencarian para siswanya.

Pemanfaatan model pembelajaran kolaboratif akan banyak membantu siswa dalam kecepatan dan kedalaman proses perolehan pengetahuan yang diinginkan. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran kolaboratif akan menjadi katalisator dalam tujuan tersebut.

Melalui teknologi, siswa menjadi setara kedudukannya dalam hal kontribusi pengetahuan. Ketika terkoneksi dengan internet, mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi ide, informasi, pengalaman, dan kemampuan.

27 November 2017

Rumah untuk Alumni

(Suara Merdeka, Wacana Nasional, 27 November 2017)

SM-27_11_2017-Rumah-untuk-Alumni

“Meskipun teknologi sebagai media dalam menjembatani tujuan tersebut menjadi keniscayaan, teknologi yang dikembangkan harus mampu menciptakan nilai lebih bagi keduanya; tidak hanya sekadar menjadi alat hubung”

BAGI banyak orang, saat kelulusan adalah satu momentum paling berkesan. Namun, setelah wisuda berlalu dan karena kesibukan, tingkat kesulitan kembali ke tempat kuliahnya dahulu menjadi tinggi.

Untuk pengurusan dokumen, mereka bahkan harus mencari waktu khusus atau titip kepada teman yang masih kuliah. Berbagai hal yang dibutuhkan dari almameternya menjadi rumit dan mahal sehingga akhirnya diminimalkan.

Interaksi yang makin minimal seringkali menjadikan kampus terasa sebatas bagian dari masa lalu. Teknologi informasi yang berkembang seharusnya memungkinkan universitas menjadi rumah bagi alumni, terutama jika keduanya saling terkoneksi dengan masa depan.

Alumni dengan berbagai aktivitasnya memiliki banyak pengalaman yang dapat dibagikan kepada kampus dan adik-adiknya. Berbagai pengalaman baru dan pemikiran yang konstruktif bagi universitasnya acap muncul pada saat mereka bekerja. Namun, karena tidak terkoneksi, banyak hal baik hanya berhenti di pikiran dan hilang bersama waktu.

Hubungan antara keduanya umumnya baru terjalin lagi saat reuni dan menjelang akreditasi program studi atau perguruan tinggi. Padahal tingkat mobilitas alumni antarnegara yang makin tinggi akhir-akhir ini merupakan pengalaman berharga untuk dibagikan.