03 December 2015

Sambut Pilkada dengan Game Buatan Sendiri

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi, 30 November 2015)

Clipboard10

Dalam sepekan ke depan, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 9 Desember akan memasuki masa tenang. Berbagai bentuk sosialisasi dari masing-masing calon pasangan kepala daerah sampai dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) berkejaran menghiasi berbagai ruang publik, termasuk media cetak dan media sosial di internet.

Beberapa tim sukses bahkan tampak gencar melakukan sosialisasi di Facebook dan blog untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan, termasuk menayangkan klip video pasangan calon kepala daerah dan program kerjanya melalui YouTube. Penggunaan media intemet merupakan jalan keluar karena terlalu banyaknya media promosi konvensional yang bertebaran di jalanan kota sudah tidak lagi bisa digunakan untuk mempromosikan program-program yang diusung dalam pilkada.

Bahkan saat ini tampak berbagai media promosi konvensional lebih mengandalkan bentuk visualisasi yang mudah diingat oleh pengguna jalan, dengan menonjolkan bentuk angka atau huruf yang mencolok dan menjadi ciri khas pasangan calon wali kota.

Bagi pemilih pemula dan anak muda, teknik promosi seperti itu seringkali tidak mempunyai arti apapun dalam penentuan keputusan. Tanpa adanya informasi dan data yang dapat diserap oleh mereka dapat membuat mereka semakin apatis apalagi berkepentingan untuk memilih dalam Pilkada.

14 April 2015

Antiplagiasi Makin Kuat Jasa Skripsi Makin Berat

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi, 13 April 2015)

Turnitin02 Saat ini makin banyak perguruan tinggi yang melihat plagiasi tidak semata-mata sebagai pelanggaran dalam dunia pendidikan, tetapi juga memperlihatkan mutu dalam tulisan yang dihasilkan para akademisinya.

Sosialisasi antiplagiasi, workshop penggunaan perangkat lunak antiplagiasi, sampai pendampingan dalam teknis penulisan referensi semakin digalakkan oleh perguruan tinggi, termasuk di institusi penulis.

Unit Pelaksana Tugas (UPT) Perpustakaan seringkali menjadi unit yang berperan dalam implementasi kebijakan antiplagiasi karena pada zaman digital sekarang ini, perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat pinjam-meminjam pustaka.

Beberapa perpustakaan di perguruan tinggi sudah bertransformasi dan berperan lebih penting dalam mengedukasi masyarakat kampus dalam tata cara penulisan yang baik, terutama terkait dengan penulisan pustaka-pustaka yang digunakan.

12 October 2014

Dampingi Anak saat Gunakan Gawai

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi 6 Oktober 2014)

Dampingi Anak saat Gunakan Gawai 

Peranti digital yang biasa disebut gadget atau gawai telah menjadi teman bagi banyak orang, baik pada saat bekerja maupun pada waktu senggang. Bahkan anak-anak kini telah menggunakan gawai seperti smartphone dan tablet sejak masih kecil, pada saat orang tuanya juga belum lama mengenal peranti tersebut.

Seringkali gawai menjadi solusi untuk menenangkan anak kecil yang umumnya aktif pada saat mereka sedang rewel, baik dengan menayangkan video secara online maupun dengan menggunakan berbagai permainan yang telah diunduh dari toko aplikasi.

Umumnya, upaya memanfaatkan gawai untuk menenangkan anak cukup berhasil. Tak heran bila cukup sering terlihat, pada saat keluarga sedang makan, anak tampak tenang melihat tayangan dalam gawai. Tidak ada kerewelan dan sang anak juga menjadi mudah disuapi jika sembari memainkan gawai.

Namun, ketergantungan pada gawai juga bisa menimbulkan persoalan tersendiri. Selain tidak kenal waktu tidur dan waktu belajar, kecenderungan untuk terikat pada gawai akan menimbulkan dampak negatif sosial bagi penggunanya, di antaranya ancaman pornografi.

Kejengkelan orangtua yang tidak dapat mengatur anaknya saat mereka sedang memegang gawai juga menjadi permasalahan yang mengganggu. Proses edukasi mengenai tanggung jawab anak di dalam keluarga juga menjadi tidak berjalan.

Perlu dilakukan langkah-langkah untuk mencegah dampak negatif semacam itu berjalan lebih jauh. Paling tidak, terdapat enam prinsip yang perlu dilakukan untuk pendampingan anak pengguna gawai.

Prinsip yang pertama adalah Friends of Mine atau orangtua menjadi teman anak yang dapat membicarakan topik-topik terkait. Bahkan, seringkali orangtua dituntut untuk dapat mengimbangi pengetahuan tentang gawai dan dunia digital agar bisa tetap saling terhubung satu sama lain.

Dengan begitu, anak menemukan teman diskusi di dalam keluarga dan bukan dengan orang-orang asing yang hanya ditemuinya di dunia maya. Namun, dibutuhkan kesediaan orangtua untuk mempelajari hal-hal yang baru, termasuk teknologi baru.

02 September 2014

Keamanan Transaksi Kartu Kredit di Internet

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi, Senin 1 September 2014)

Keamanan Transaksi Kartu Kredit di Internet, 01-September-2014[1]

Penggunaan kartu kredit di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Terbukti di dalam statistik Bank Indonesia terlihat adanya penambahan sekitar 1 juta kartu kredit pada setiap tahunnya. Sampai pertengahan tahun 2014, tercatat sejumlah 15 juta kartu kredit telah digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Dalam setiap peningkatan jumlahnya, terdapat pengguna-pengguna baru yang pertama kali mempunyai kartu kredit. Selain kegunaan yang umum sebagai alat pembayaran dalam pembelian di toko, pemesanan kamar hotel, cicilan produk dan sejenisnya, terdapat aktivitas transaksi pembayaran melalui internet.

Namun banyak pengguna yang merasakan kekawatiran akan keamanan melakukan transaksi di internet. Selain karena tidak adanya edukasi dari bank penyelenggara kartu kredit bagi para pengguna pemula, banyak informasi negatif di masyarakat mengenai penyalahgunaan kartu kredit di internet.

Tidak heran, banyak masyarakat yang sampai saat ini memilih tidak menggunakan kartu kreditnya untuk bertransaksi di internet. Bahkan ketika terpaksa menggunakan, pengguna kerap dihantui kekhawatiran akan resiko yang banyak diberitakan oleh media massa dan media sosial di internet.

Jika saja informasi yang benar mengenai keamanan transaksi dengan kartu kredit ini, masyarakat pengguna kartu kredit dapat lebih tenang dalam melakukan transaksi di internet. Dengan informasi yang benar, pengguna juga bisa menghindari kemungkinan negatif saat akan melakukan transaksi.

15 July 2014

Mengawal Suara Rakyat Melalui Website KPU

(Suara Merdeka – Halaman Teknologi, Senin 14 Juli 2014)

Mengawal Suara Rakyat Melalui Website KPU

Meskipun Pemilihan Presiden (Pilpres) sudah usai diselenggarakan pada 9 Juli lalu dan berbagai hitung cepat bermunculan, masyarakat masih harap-harap cemas menunggu proses berikutnya. Yakni pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh KPU pada 22 Juli mendatang.

Saling klaim kemenangan berdasarkan hitung cepat dari masing-masing kubu menciptakan kebingungan tersendiri bagi masyarakat yang awam dengan metode-metode survei. Terlebih ketika hitungan cepat tersebut bisa melebihi 100 persen.

Tetapi hitung cepat bukanlah penghitungan yang akan dipakai oleh KPU dalam mengumumkan presiden terpilih 2014 nantinya. Ada proses penghitungan suara yang nantinya direkap di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai dengan nasional.

01 July 2014

Kampanye Hitam di Media Sosial

(Suara Merdeka – Wacana Nasional, 1 Juli 2014)

kampanye

"Ketika gerakan sensor diri diikuti banyak orang maka penyebaran kampanye hitam akan kehilangan makna"

DALAM masa kampanye Pilpres 2014, kedua tim sukses capres-cawapres, termasuk pendukung kandidat, terlihat banyak memanfaatkan media sosial. Kedua pihak tampaknya memahami benar kelebihan media sosial dalam meyakinkan masyarakat, melalui dukungan gambar pelengkap, potongan video rekaman, dan tautan situs berita.

Makin mendekati tanggal 9 Juli, tayangan kampanye hitam makin banyak bermunculan di media sosial. Umumnya informasi yang bernuansa sesat (hoax), menghasut, dan menimbulkan kebencian kepada sosok capres yang lain tersebut ditayangkan dan dibagikan oleh pendukung capres yang merupakan teman bahkan sahabat di media sosial.

Pencantuman testimoni orang-orang yang mengaku kenal pasangan capres-cawapres di dalam blog, atau bahkan keberadaan akun media sosial palsu dari tokoh masyarakat yang menyuarakan sisi negatif salah satu sosok, makin melengkapi kekuatan kampanye hitam di internet. Masyarakat hampir tidak bisa membedakan berita antara yang benar-benar terjadi dan imajinatif.

Pembaca kemungkinan besar terpengaruh karena serbuan kampanye hitam yang dilengkapi situs-situs pendukung yang ditautkan secara lengkap, terasa meyakinkan. Dampak kecil dirasakan andai sebelumnya mereka memetakan berbagai situs beserta afiliasinya ke masing-masing pasangan. Padahal tak semua punya waktu dan kesempatan menganalisis, memperbandingkan, apalagi memetakan.