11 May 2020

Bisa Manggung di Media Sosial


(Tribun Jateng, News Analysis, 11 Mei 2020)

SEJAK pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, berbagai aktivitas masyarakat terpaksa berhenti. Wayang Orang Ngesti Pandawa yang biasanya tampil setiap Sabtu jam 20.00 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) menghibur masyarakat Semarang dan sekitarnya akhirnya juga memutuskan untuk berhenti, mengikuti Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah tanggal 14 Maret 2020 tentang Peningkatan Status Kewaspadaan Terhadap Risiko Penularan Infeksi COVID di Jateng.
Kondisi ini tentunya menyulitkan bagi para seniman yang menggantungkan hidupnya pada dunia pertunjukan kesenian seperti Wayang Orang. Namun di sisi lain, kondisi ini dapat menciptakan peluang bagi Ngesti Pandawa untuk menghibur kalangan yang lebih luas lagi. Modal yang terpenting untuk menghadapi kondisi ini adalah mereka tidak boleh putus asa dan tetap bersemangat menyalurkan kecintaannya pada dunia kesenian, meskipun tidak lagi bisa di atas panggung.
Pertunjukan dalam bentuk digital yang saat ini telah mulai banyak di media sosial memang menjadi solusi kebuntuan penyaluran bakat dan aspirasi seni di tempat publik. Bahkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga ikut mendukung dengan memberikan insentif kepada seniman yang menghasilkan karya dengan syarat lokasi tampil di rumah saja dan jumlah seniman yang terlibat dibatasi sampai tiga orang saja. Insentif ini cukup mendorong para seniman untuk bergerak keluar dari zona nyaman, yaitu belajar teknologi audio visual, meskipun dengan peralatan gawai yang sederhana. Ngesti Pandawa dengan laskar mudanya juga bergerak ke arah yang sama dan bertransformasi dengan tetap melibatkan seniman-seniman senior di dalamnya. Beberapa seniman yang mempunyai kemampuan dalam hal merekam dan video editing secara otodidak, mulai mengkonversikan pertunjukan yang sebelumnya di panggung ke dalam bentuk video. Tentunya dengan mematuhi protokol untuk physical dan social distancing.

03 April 2020

Normalitas Baru Pembelajaran Daring

(Tribun Jateng, Opini 3 April 2020)


Oleh: Prof. Dr. F. Ridwan Sanjaya, MS.IEC, Rektor dan Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata

DALAM beberapa tahun terakhir ini, manusia dihadapkan dalam berbagai disrupsi yang terjadi di hampir semua bidang kehidupannya. Awalnya dianggap sebagai kekacauan (chaos) namun pada akhirnya menjadi normalitas baru (new normality) yang dianggap biasa dan dijalani menjadi kebiasaan baru. Hal ini juga kita lihat pada dunia pendidikan pada saat dunia diterpa wabah Covid-19. Banyak sekolah yang sebelumnya cukup nyaman dengan pembelajaran tatap muka dibuat kocar-kacir tidak berdaya karena tidak pernah menyiapkan rencana cadangan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, salah satunya ketika sekolah dipaksa tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Berbagai reaksi muncul dalam menyikapi hal tersebut, ada yang langsung siap mengalihkan menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring), ada yang baru bergegas mempersiapkan infstruktur, ada pula yang mencari-cari cara yang cepat dan mudah untuk menyampaikan materi ke anak-anak didiknya, atau bahkan ada yang hanya sekedar memberi tugas secara beruntun seperti tidak pernah ada akhirnya. Namun hal ini terpaksa dilakukan sebab berdiam dan tidak melakukan apa-apa justru resikonya lebih besar.

02 April 2020

Kuliah Daring, Jangan Repot

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 2 April 2020)


"Diskusi bisa bersifat real-time maupun dengan rentang waktu tertentu. Sehingga, evaluasi pembelajaran dapat dilakukan secara tepat meskipun dengan kondisi terbatas."

KONDISI saat ini tentu tidak pernah kita harapkan. Tak heran banyak rencana tiba-tiba berubah atau bahkan ditiadakan. Kadangkala rencana cadangan juga tidak pernah disiapkan karena tidak terbayangkan sebelumnya. Hal ini dialami oleh beberapa sekolah dan kampus yang mendadak pindah ke pembelajaran daring. Sebab untuk melanjutkan ke pembelajaran tatap muka sangat tidak dimungkinkan.

Beberapa sekolah dan kampus yang telah mempersiapkan pembelajaran daring sejak lama, tentu saat ini menghadapi kejutan dan kenyataan bahwa mahasiswa membutuhkan kuota internet secara masif untuk mengikuti kuliah daring secara massal.
Bagi pemilik infrastruktur pembelajaran daring juga akan dikejutkan dengan lonjakan beban akses dari dosen dan mahasiswa pada saat kuliah bersama-sama. Namun hal ini jauh lebih beruntung dibandingkan dengan sekolah dan kampus yang tidak memiliki infrastruktur atau perencanaan sebelumnya.
Beberapa kampus berhasil mengajak kerja sama operator-operator telepon seluler skala besar untuk mendukung kebutuhan kuota internet yang tidak biasa, dengan cara menambahkan kuota gratis rata-rata sebesar 30 gigabyte (GB) untuk satu bulan melalui program Corporate social responsibility (CSR).

14 December 2019

Ketika Gelar Tidak Menjamin

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 14 Desember 2019)


BEBERAPA waktu yang lalu Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, dan masuk kelas tidak menjamin belajar.
Meski banyak pihak memperdebatkan, pernyataan ini bukanlah hal baru karena pandangan ini pernah tersampaikan dalam Tajuk Rencana Suara Merdeka 4 Desember 2017 di mana perusahaan skala global seperti Google telah memutuskan tak lagi mensyaratkan ijazah untuk bergabung. Tentu ada pengalaman yang melatarbelakanginya.

10 September 2019

Lulusan PT dan Pencerahan Kedua

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 6 September 2019)
SM 06_09_2019 Lulusan PT dan pencerahan keDua
SELESAI studi dari perguruan tinggi dengan predikat apa pun, merupakan bagian dari pencapaian yang dirasakan secara langsung oleh para lulusan, bahkan menjadi sejarah yang akan terus melekat dan terceritakan sampai akhir hayat nanti.
Bagi orang tua, pasangan, keluarga, atau teman-temannya, mendengar pengumuman kelulusan atau menyaksikan peristiwa penting saat mereka diwisuda akan menjadi satu peristiwa yang berkesan dan membanggakan. Mungkin dalam waktu-waktu ke depan, peristiwa tersebut akan terus dibawa dan dibagikan kepada orang-orang terdekatnya.
Hal yang sama saya alami pada saat berkunjung ke Vatikan pada hari Minggu yang lalu. Pada saat doa jam 12 siang, Paus Fransiskus mengumumkan pengangkatan Mgr Ignatius Suharyo sebagai satu dari 13 kardinal baru atau pejabat senior dalam lingkup Gereja Katolik Roma. Berada di tengah-tengah peristiwa penting secara langsung, meskipun hanya menyaksikan, menjadi satu peristiwa yang berkesan dan membanggakan.

10 August 2019

Keterlibatan Sinergis

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 5 Agustus 2019)

SM 05_08_2019 Keterlibatan Sinergis

MESKIPUN dilahirkan 37 tahun lalu, Unika Soegijapranata pernah mengalami transformasi dari Unika Atmajaya Cabang Semarang pada 1964 menjadi Institut Teknologi Katolik Semarang (ITKS) pada 1973, dan akhirnya menjadi kampus dengan nama saat ini pada 1982. Penggunaan nama Soegijapranata diambil dari nama tokoh dan pahlawan nasional yang menjadi Uskup Agung Semarang dan dimakamkan di Semarang.

Melalui sosok Mgr Albertus Soegijapranata SJ yang menjadi patron pelindung universitas, civitas academica Unika Soegijapranata mendapatkan kesempatan untuk belajar nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, integritas, pluralisme, dan multikultural. Nilai-nilai tersebut kini menjadi ciri khas yang kuat dalam kehidupan, proses pembelajaran, dan pergaulan di Unika Soegijapranata.

Motto Talenta pro patria et humanitate yang dimiliki oleh kampus yang bersumber pada pesan Mgr Soegijapranata yang berbunyi bakat pemberian Allah jangan hanya kau sembunyikan, persembahkan seluruhnya kepada nusa, bangsa, dan negara menjadi spirit universitas dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi ataupun berbagai aktivitas di dalam masyarakat.

Dalam rangkaian internalisasi nilai-nilai Mgr Soegijapranata, Unika menetapkan tema karya Keterlibatan Sinergis pada satu tahun menjelang usianya yang ke-37. Keterlibatan sinergis ini mempunyai makna setiap orang terlibat secara aktif dan menjadi bagian yang penting dalam setiap langkah bersama, bukan hanya ikut-ikutan atau sekadar mengikuti langkah yang lain. Kesadaran untuk terlibat secara sinergis diharapkan menghasilkan dampak yang lebih besar di masyarakat.