16 May 2018

Library 4.0 untuk Perpustakaan Masa Depan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 Mei 2018)

SM-15_05_2018-Library-4.0

PERPUSTAKAAN telah mengalami beberapa kali evolusi dalam perkembangannya. Jika semula perpustakaan berfokus pada koleksi pustaka dan layanan, kini telah bergeser pada nilai tambah (Noh, 2015).

Dengan demikian, perkembangan perpustakaan pada tahapan berikutnya sangat mungkin terjadi dan bisa diciptakan. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan pemustaka dan perkembangan teknologi informasi. Harapannya, berbagai penyesuaian dapat membuat perpustakaan semakin berharga dan memberi dampak yang semakin besar bagi dunia pendidikan.

Keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), big data, internet of things (loT), layanan berbasis cloud, dan alat-alat cerdas, sebagai ciri dari Revolusi Industri 4.0 akan membuat banyak perubahan dunia pendidikan (Grewal, Motyka, & Levy, 2018). Akibatnya, pengelola perpustakaan di berbagai belahan dunia menebak-nebak terobosan berikutnya yang harus dilakukan.

Hal tersebut tidak ada yang salah. Hanya saja, melihat kebutuhan nyata yang ada di dalam dunia pendidikan justru harus menjadi fokus dalam pengembangan perpustakaan. Teknologi informasi dapat mewujudkan apabila kebutuhan dan solusi yang dirancang sudah mulai terbentuk.

29 April 2018

Samudera Biru bagi Lulusan Perguruan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 17 April 2018)

    SM-17_04_2018-Samudra-Biru-bagi-Lulusan-Perguruan-Tinggi

      "Pertempuran dengan petahana yang diilustrasikan sebagai Samudera Merah (Red Ocean) menjadi tidak perlu terjadi bahkan dapat menciptakan ruang berkembang baru yang berpotensi melampaui kompetisi yang ada"

      DALAM beberapa waktu terakhir ini dunia pendidikan tinggi selalu diingatkan adanya kemungkinan perubahan radikal yang dapat sewaktu-waktu mengubah peta persaingan dalam berbagai bidang yang juga berdampak pada eksistensi lulusan perguruan tinggi. Kata kunci inovasi disruptif dan industri 4.0 semakin sering disebut dalam berbagai pertemuan, seminar, bahkan menjadi kebijakan perubahan dalam organisasi besar.

      Hal ini punya tujuan baik untuk mengingatkan kita semua agar dapat mengantisipasi dunia yang sangat cepat berubah (volatile), tidak mudah diprediksi (uncertain), semakin rumit (complex), dan multitafsir (ambiguous) yang menurut Whiteman (1998) diistilahkan sebagai VUCA world.

      Menurut Nathan Bennett dan G James Lemoine dalam Harvard Business Review (2014), kondisi tersebut juga harus dihadapi dengan strategi VUCA atau cara pandang yang jauh ke depan (vision), pemahaman yang mendalam (understanding), ketajaman dalam melihat peluang (clarity), dan kelincahan dalam bergerak (agility).

      Hal yang sama juga pernah ditulis oleh Sun Tzu dalam buku Art of War (Feng, 2007), pemahaman akan medan pertempuran akan membuat seorang jenderal dapat mengatur strateginya tanpa harus mengorbankan banyak pihak.

      16 February 2018

      E-Book baru, Antisipasi Plagiasi dengan Software Anti-Plagiasi

      Penerbit: SCU Knowledge Media, 2018

      buku-antisipasi-plagiasiSemakin tingginya kesadaran untuk menghasilkan karya orisinal membuat software pemeriksa plagiasi semakin dibutuhkan. Seringkali karena kurangnya perhatian atau pengetahuan yang memadai akan plagiasi, seseorang terjebak dengan tuduhan plagiasi yang sebetulnya belum tentu dia lakukan. Buku ini akan membahas penggunaan perangkat lunak anti-plagiasi Viper, Plagscan, Turnitin, Unicheck, baik penggunaannya secara personal maupun organisasi. Beberapa software anti-plagiasi tersebut bahkan dapat diintegrasikan dengan platform e-learning Moodle yang akan memudahkan dalam pemeriksaan tugas sekolah atau perkuliahan sehari-hari. Buku ini cocok untuk dosen, guru, mahasiswa, pelajar, pengelola platform e-learning, dan penulis.

      Selanjutnya »

      02 February 2018

      Masa Depan Financial Technology

      (Suara Merdeka, Wacana Nasional 1 Februari 2018)

      SM-01_02_2018-Masa-Depan-Financial-Technology

      PERKEMBANGAN internet yang demikian cepat dan perubahan gaya hidup generasi muda membawa dampak pada dunia finansial melalui teknologi keuangan yang dikembangkan secara luar biasa di Indonesia. Namun sejarah mencatat, 10 tahun yang lalu pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 20 juta, sangat jauh dari sekarang yang mencapai 132 juta pengguna.

      Saat ini, dengan pengguna internet yang jumlahnya melebihi penduduk negara-negara Asia Tenggara, bahkan sebagian besar negara-negara di Asia, Indonesia menjadi pangsa pasar yang besar, baik dalam hal penggunaannya maupun pengembangannya.

      Setelah e-commerce laris manis dan menjadi primadona transaksi perdagangan dalam beberapa tahun terakhir, pasar keuangan digoyang dengan kehadiran bisnis-bisnis rintisan baru dalam bidang keuangan.

      Konsep dan paradigma mengenai dunia keuangan yang baru menjadi senjata bagi banyak pengusaha muda untuk memulai usaha ini. Meskipun dianggap baru, Bill Gates pernah menyampaikan pada 1994, ”Banking is necessary. Banks are not.”

      Hal itu menggambarkan, aktivitas perbankan meskipun dibutuhkan, wujud fisiknya tidak lagi penting. Pernyataan yang dulu dinilai kontroversial itu seperti mengingatkan dunia perbankan untuk bersiap-siap menyesuaikan diri dengan perubahan yang radikal. Jika tidak, akan tergantikan oleh bentuk baru dari perbankan.

      20 January 2018

      Melangkah Maju Bersama

      (Tabloid Warna, edisi 15/Januari 2018)

      Warna-15_01_2017-Melangkah-Maju-Bersama

      “Setiap individu memiliki peran dalam mewujudkan program-program yang dicanangkan oleh organisasi melalui talentanya masing-masing”

      Perubahan yang sangat cepat pada masa sekarang ini, telah menciptakan berbagai bisnis baru yang tidak terbayangkan sebelumnya. Siapa yang dulu pernah membayangkan pemilik-pemilik motor dari rumahnya masing-masing bersedia dihimpun untuk menerima tugas mengantar seseorang melalui sebuah aplikasi ponsel dan menerima honor untuk setiap tugas yang dikerjakannya? Kini Gojek, Uber, dan Grab sudah menjadi hal yang biasa kita lihat sehari-hari bahkan nilai perusahaan mereka melebihi perusahaan transportasi sejenis yang sudah ada.

      Fenomena sejenis juga dapat dilihat dari pemilik kamar kamar atau rumah yang bersedia disewa oleh orang lain melalui aplikasi ponsel seperti AirBNB, Airy Rooms, ZenRooms, RedDoorz, Agoda ataupun Traveloka. Meskipun perusahaan-perusahaan ini tidak memiliki aset kamar, rumah, maupun hotel, transaksi finansial yang dihasilkannya telah melebihi usaha perhotelan yang sudah berdiri sebelumnya.

      Satu lagi usaha yang akhir-akhir ini sering muncul di iklan radio yaitu UangTeman.com berhasil menghimpun para pemilik-pemilik dana yang jumlah dananya mungkin tidak besar namun dalam jumlah banyak. Mereka membantu orang-orang yang ingin meminjam dana namun dalam jumlah yang tidak terlalu besar dan tidak mau direpotkan dengan prosedur peminjaman yang rumit. Bisnis yang termasuk dalam kategori Financial Teknology (fintech) akan banyak mengubah dunia perbankan di masa yang akan datang.

      02 January 2018

      Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi

      (Suara Merdeka, Wacana Nasional, 2 Januari 2018)

      SM-2_01_2018-Self-Disruption-Perpusatakaan-perguruan-Tinggi

      “Pengelola perpustakaan dituntut melakukan self-disruption untuk dapat mempertahankan posisinya sebagai paru-paru pengetahuan di perguruan tinggi”

      DALAM beberapa tahun terakhir ini istilah Disruptive Innovation menjadi semakin populer sejak kemunculan transportasi online, penginapan online, tiket online, dan bisnis-bisnis online sejenisnya. Meskipun istilah ini sudah mulai dikenalkan pada tahun 1995 dalam Harvard Business Review (Bower & Christensen, 1995) dan dipublikasikan dalam buku The Innovatorís Dilemma dua tahun kemudian (Christensen, 1997), pembahasan mengenai teori ini secara meluas baru muncul akhir-akhir ini.

      Dalam bukunya, Christensen menekankan bahwa produk dalam kelompok disruptive innovation umumnya lebih murah, lebih sederhana, lebih kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Produk tersebut awalnya menyasar pada kelompok kecil pengguna, namun akhirnya dapat menggantikan produk yang dikembangkan oleh pemimpin pasar setelah mengalami berbagai peningkatan kualitas dan penyesuaian kebutuhan.

      Namun Christensen menekankan bahwa peningkatan performa secara berkelanjutan yang umumnya dilakukan oleh pemimpin pasar pada suatu produk, bukanlah disruptive innovation melainkan sustaining innovation. Sebagai incumbent, inovasi yang bertahap seringkali tidak cukup lagi untuk menghadapi perubahan radikal yang terjadi saat ini. Dibutuhkan kemauan untuk self-disruption agar sebuah organisasi dapat bertahan.

      Contoh dalam dunia pendidikan, perpustakaan di perguruan tinggi seringkali menghadapi kenyataan pahit bahwa jumlah mahasiswa dan dosen yang berkunjung ke perpustakaan semakin lama semakin menurun. Bahkan di beberapa perguruan tinggi, beberapa pustakawan beralih divisi karena kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di perpustakaan tidak lagi setinggi yang dulu.