16 February 2014

SIPKD dan Keresahan Dosen

(Suara Merdeka – Wacana Nasional 10 Februari 2014)

SM-SIPKD MENGINJAK minggu kedua Februari 2014, banyak dosen makin resah karena batas waktu pengisian data ke dalam sistem informasi pengembangan karier dosen (SIPKD) kian dekat. Padahal program yang berbasis internet tersebut acap melambat, bahkan berhenti bekerja. Adalah Ditjen Dikti yang mewajibkan dosen menuliskan semua aktivitas tiap semester ke dalam sistem informasi itu.

Berbeda dari program Beban Kerja Dosen (BKD) sebagai syarat pencairan tunjangan profesi, SIPKD diisi oleh dosen dengan menggunakan internet. Dosen seluruh wilayah dimungkinkan mengisi bersamasama dan secara otomatis jadi satu di pusat Ditjen Dikti. Selain isian kegiatan, mereka diminta melampirkan softcopy bukti aktivitas.

Dibanding pengisian BKD, proses pengisian SIPKD seharusnya lebih cepat karena meniadakan perantara. Dampaknya pun keakuratan data lebih terjamin dan secara bersamaan bisa digunakan oleh sistem lain yang dibangun Dikti. Secara teori, SIPKD mestinya lebih andal.

Namun Dikti tidak mengantisipasi soal kesamaan waktu mengisi data pada sistem itu. Realitas itu mengakibatkan menjelang batas waktu, situs (web) sistem informasi tersebut sangat lambat, kendati waktu larut malam. Bahkan akhir 2013 dan akhir Januari 2014 sistem tersebut down.

Pada akhir 2013, ada kebijakan perpanjangan batas waktu pengisian dan membagi jadwal berdasarkan jabatan fungsional dosen. Namun pada akhir Januari 2014 tampilan yang muncul adalah permohonan maaf dan janji memperpanjang waktu pengisian. Kebiasaan mengisi data menjelang batas waktu, jumlah dosen yang ratusan ribu, dan ukuran dokumen yang diunggah, tampaknya tidak diantisipasi sejak awal. Sistem tak perlu harus down karena tingginya lalu lintas pengisian data.

Pengelola perlu kembali melihat keberadaan koordinator perguruan tinggi wilayah yang rata-rata memiliki server di internet untuk kebutuhan operasional. Program SIPKD dapat disebar ke semua server koodinator agar dosen di wilayahnya dapat mengisi secara terpisah dari dosen wilayah lain.

15 October 2013

Aplikasi Pendidikan Tanpa Biaya

(Suara Merdeka – Rubrik Konek, Senin 14 Oktober 2013)

Mail Unika

Google telah dikenal sebagai penyedia berbagai layanan yang handal di internet. Dukungannya terhadap dunia pendidikan seringkali menimbulkan pertanyaan bagi berbagai pihak, terutama terkait dengan dana yang harus dikeluarkan. Apakah institusi pendidikan di Indonesia perlu mengeluarkan dana untuk mendapatkan dukungan aplikasi pendidikan dari Google?

Kerjasama dengan perusahaan besar apalagi berskala internasional, termasuk Google, merupakan hasil kinerja yang sangat prestisius. Tak heran, banyak yang mempublikasikan kerjasama penggunaan aplikasi Google di lingkungannya secara besar-besaran. Sehingga bagi institusi pendidikan kecil yang minimal dana kerjasamanya, seringkali surut nyali ketika berniat memanfaatkan aplikasi Google untuk Pendidikan.

Padahal Google secara terbuka telah menginformasikan di dalam webnya, bahwa mereka tidak memungut biaya bagi institusi pendidikan yang berminat menggunakan layanan yang dikelolanya. Bahkan jumlah penggunanya tidak dibatasi hanya sampai 10 akun saja, seperti yang pernah diberikan saat layanan ini masih gratis sampai dengan 6 Desember 2012 yang lalu.

Bagi institusi non-pendidikan, pemanfaatan layanan tersebut dikenakan biaya untuk setiap akunnya sebesar lima Dollar per bulan bagi pelanggan yang memilih paket Flexibel atau lima puluh Dollar setiap tahun bagi pelanggan yang memilih paket tetap tahunan.

Sedangkan bagi institusi pendidikan, terdapat beberapa proses yang harus dilalui agar bisa dinyatakan berhak memanfaatkan aplikasi Google untuk Pendidikan tanpa dikenai biaya apapun. Tentu saja, selain deskripsi profil institusi pendidikan yang ditulis pada saat proses pendaftaran, ketersediaan website institusi pendidikan akan sangat membantu dalam proses review dan persetujuan.

16 July 2013

Peran Sistem Informasi dalam Efisiensi Bisnis

(Suara Merdeka – Rubrik Konek, Senin 15 Juli 2013)

S-1 Sistem Informasi Unika Soegijapranata

Perkembangan teknologi informasi dan inovasi para pemikir sistem telah mengantarkan organisasi bisnis bekerja lebih efektif dan efisien dibanding sebelumnya. Proses pengambilan keputusan bisnis juga semakin singkat dan akurat berkat dukungan sistem informasi yang mampu mengelola dan mengolah data di lapangan secara cepat.

Meskipun belum mendominasi, banyak organisasi bisnis yang telah memanfaatkan berbagai produk sistem informasi untuk kepentingan bisnisnya, baik dalam skala kecil maupun besar. Tidak lagi sekedar menggunakan aplikasi perkantoran yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan administrasi pembuatan surat, pengganti kwitansi, dan sejenisnya.

Beberapa contoh tujuan dari pembuatan sistem informasi yang mulai banyak dimanfaatkan oleh perusahaan untuk solusi bisnisnya, antara lain mengetahui stok barang di semua cabang secara real time, distribusi barang dari cabang yang memiliki kelebihan stok ke cabang yang sedang kehabisan stok, penjadwalan pengiriman barang secara otomatis, serta menganalisa preferensi konsumen atas produk-produk yang dijual.

09 July 2013

Sistem Informasi Jadi Denyut Nadi Bisnis

Sistem Informasi Unika Soegijapranata

(Suara Merdeka, 8 Juli 2013 – Fokus Jateng)

Perkembangan teknologi informasi telah mengakibatkan perubahan yang signifikan di segala aspek kehidupan masyarakat, terutama dalam bidang bisnis. Jika sebelumnya migrasi budaya kerja dari manual ke penggunaan teknologi informasi hanya disebabkan oleh tuntutan organisasi atau perusahaan semata, saat ini telah bergeser karena munculnya kepercayaan dari penggunanya akan kemudahan dan efisiensi kerja yang meningkat.

Pekerjaan menjadi lebih cepat dan bahkan mempunyai nilai tambah (added value) yang berpengaruh besar pada perusahaan karena adanya dukungan teknologi informasi. Seiring dengan peningkatan kepercayaan terhadap teknologi informasi tersebut, kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang ahli di bidangnya juga bertambah.

Sumber daya yang diharapkan bukan hanya menguasai teknologi informasi semata, tetapi juga menguasai business logic yang digunakan dalam organisasi bisnis. Mereka diharapkan dapat menerjemahkan kebutuhan organisasi ke dalam wujud sistem yang terkomputerisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi.

27 May 2013

Layanan Paspor Online, Efisiensikan Waktu

(Suara Merdeka – Rubrik Konek 27 Mei 2013)

Paspor Online 

“Dengan layanan online, mengurus paspor menjadi lebih singkat 4 hari kerja dibandingkan dengan cara manual. Karena pembuatan paspor menjadi lebih cepat dan tak berbelit-belit, tentunya akan memudahkan masyarakat dan menghindarkan dari calo atau pungutan liar”

Batas antar negara semakin lama terlihat semakin tipis semenjak makin banyaknya maskapai penerbangan yang membuka akses internasional di suatu kota. Untuk Semarang, semula hanya Batavia Air (kini sudah tidak ada-Red) dan AirAsia saja yang melayani rute penerbangan internasional Semarang-Singapura dan Semarang-Kuala Lumpur. Namun dalam waktu dekat, SilkAir dan Tiger Airways juga berencana untuk membuka rute internasional dari Semarang ke Singapura.

Baik AirAsia maupun Tiger Airways merupakan maskapai penerbangan yang menerapkan strategi low-cost carrier atau penerbangan murah. Sehingga tak heran, seringkali harga tiket ke lain negara bisa lebih murah dibandingkan tiket pesawat antar kota dalam satu negara.

Harga tiket yang semakin terjangkau, bertambahnya frekuensi dan jumlah maskapai yang melayani penerbangan antar negara, serta meningkatnya persaingan antar maskapai penerbangan akan semakin memudahkan masyarakat dalam memperoleh penerbangan antar negara yang murah.

24 April 2013

Facebook Home, Manjakan Pengguna

(Suara Merdeka – Rubrik Konek, Senin 15 April 2013)

facebook-home1 Beberapa media massa sempat menduga Facebook akan meluncurkan ponselnya sendiri ketika mereka menerima undangan untuk mengunjungi rumah (home) baru Facebook. Ternyata, ketimbang membuat ponsel sendiri, Facebook memilih untuk membuat semua smartphone menjadi gadget berbasis Facebook dengan meluncurkan Facebook Home pada 4 April yang lalu.

Facebook Home, yang baru saja diluncurkan di kantor pusatnya di California tersebut merupakan jawaban dari rumor yang selama ini beredar di masyarakat mengenai ketertarikan Facebook untuk membuat ponsel sendiri.

Aplikasi yang hanya bisa digunakan oleh gadget berbasis Android ini akan mengubah layar gadget pada saat aktif maupun terkunci dengan tampilan dari Facebook yang disebut sebagai Cover Feed.

Dengan adanya tampilan tersebut, gadget akan menampilkan kabar terbaru yang biasanya muncul di halaman beranda dari akun Anda di Facebook disertai gambar atau foto yang memenuhi layar dan tulisan mengenai kabar baru tersebut.

Meskipun tampil di layar terkunci, Anda tidak harus membuka kunci gadget terlebih dahulu untuk menjalankan aplikasi tersebut karena semuanya ditampilkan secara otomatis mengikuti perkembangan terbaru dari akun Anda di Facebook.