18 May 2025

Proyek Chatbot Berbasis Suara dengan ESP32

E-book "Proyek Chatbot Berbasis Suara dengan ESP32" barusan diluncurkan! Buku ini merupakan hasil dari proses eksplorasi dan pengembangan yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan dengan perangkat Internet of Things (IoT), khususnya mikrokontroler ESP32, sebagai sarana pembelajaran dan inovasi. Buku ini bertujuan untuk memberikan panduan praktis bagi para pecinta teknologi informasi yang ingin memulai atau mengembangkan proyek chatbot berbasis suara. Dengan disertai penjelasan yang sistematis serta contoh kode yang mudah dipahami, diharapkan dapat diadaptasi untuk berbagai kebutuhan. E-book ini bisa didapatkan melalui Google Play.


Daftar Isi buku ini adalah sebagai berikut:

18 May 2022

”Big Data” Bukan Segalanya

(Kompas, Opini, 17 Mei 2022)
 

”Big data” berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Namun, ”big data” bukan segalanya. Kerap orang dibutakan oleh kebenaran berbeda di luar sana dan menolak untuk memprosesnya menjadi informasi yang komprehensif.

Menurut futurolog tersohor abad ke-20 Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1980), siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia.

Jika dirunut dari konsep dasarnya, informasi merupakan data yang diolah menjadi bentuk yang dapat dimaknai oleh penerimanya. Maka, tak heran, Michael Palmer (2006) menyampaikan bahwa data merupakan minyak baru yang bisa diolah dan dimurnikan sehingga dapat digunakan oleh penggunanya.

Namun, Michael Palmer tidak spesifik menyebutkan ”pemurnian” data tersebut juga bisa menjadikannya sebagai sesuatu yang akhirnya tidak berharga, menyebabkan bencana bagi kemanusiaan, bahkan tidak akan membuat penguasa informasi itu menguasai dunia.

Dalam praktik saat ini, big data yang diolah dengan menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan juga bisa mengarahkan ”wujud” dunia setiap manusia menjadi kustom sesuai dengan preferensinya. Manusia hidup dalam dunianya sendiri, dunia yang didasarkan informasi dan fakta yang hanya ingin diterimanya.

15 May 2022

[Buku Baru] Menjadi Self-Publisher Melalui Google Play

Judul Buku: Mudah Menjadi Penerbit Buku Digital Google Play

Link: Google Play Book | Google Books

Tanggal Terbit: 14 Mei 2022

Di masa lalu, menerbitkan buku membutuhkan biaya yang cukup mahal. Hal ini menjadi berbeda ketika Google Play Book menyediakan platform untuk menerbitkan buku secara digital. Hampir tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk mencetak buku karena semuanya dalam wujud digital. Apalagi platform untuk membaca buku Google Play Book saat ini makin banyak terpasang di gadget dan mesin pencarian juga membantu mengarahkan ke buku-buku yang diterbitkan melalui Google Play Book. Kelebihan dari buku digital adalah dapat terus ditambahkan kontennya oleh penulisnya sehingga dapat semakin memudahkan pembaca tanpa harus membeli lagi.

Buku ini membahas pembuatan e-book dengan menggunakan format EPUB yang adaptif bagi perangkat digital. Dibandingkan PDF, besaran huruf dan halaman format EPUB lebih nyaman di mata dan tidak mengharuskan kita menggunakan jari untuk memperbesar dan menggeser bagian dari halaman yang ingin dilihat. Selain itu juga bisa ditambahkan video di dalamnya.

Bagi penerbit buku yang sudah eksis namun belum masuk ke buku digital, kanal baru dunia penerbitan buku digital akan menjadi salah satu alternatif masa depan yang tidak terhindarkan. Buku ini akan memudahkan Anda yang berencana untuk masuk ke dunia penerbitan buku digital, baik sebagai perusahaan penerbit maupun pribadi (self-publisher). 




27 April 2022

”Metaverse" Bukan Obat Dewa

(Kompas, Opini, 19 April 2022)


Metaverse disebut-sebut jadi mantra baru dalam pengembangan teknologi atau bahkan kehidupan di masa depan. Akan tetapi, seperti teknologi lainnya metaverse bukan obat untuk segala masalah dan bebas dari efek negatif.

Setelah Mark Zuckerberg mengumumkan perubahan nama Facebook menjadi Meta beserta rencana pengembangan metaverse dalam sepuluh tahun ke depan, Seoul mendeklarasikan penerapan metaverse untuk kotanya lima tahun ke depan.

Di dalam negeri, langkah ini juga diikuti beberapa BUMN, universitas, dan pemerintah daerah melalui kesepakatan kerja sama dalam beberapa waktu ke depan. Metaverse disebut-sebut jadi mantra baru dalam pengembangan teknologi atau bahkan kehidupan di masa depan.

Sebagai sebuah pengalaman baru, atau bahkan baru sekadar informasi baru, berbagai analisis terkait dampak keberadaan metaverse muncul tiba-tiba secara gegap gempita, tetapi tidak lengkap dan tak komprehensif. Mengharapkan metaverse menjadi solusi positif tanpa adanya risiko dan dampak negatif hanya akan menjauhkan masyarakat dari kenyataan.
Sama seperti kenyataan yang lain, di mana mengharapkan seseorang dengan kepandaian penyembuhan untuk dapat menyembuhkan segala hal, atau sebuah pil yang hebat dapat menyembuhkan segala penyakit, hanya akan menciptakan akhir penuh kekecewaan.

29 January 2022

Heboh NFT

(Suara Merdeka, Wacana, 24 Januari 2022)


MESKIPUN NFT sudah ada sebelumnya, gagasan Metaverse oleh Mark Zuckerberg menjelang akhir tahun 2021 telah memicu heboh NFT dan beberapa aset kripto lainnya. Hanya saja, tatkala Syahrani mengumumkan untuk menjual NFT yang dimilikinya, maka nama NFT makin dikenal publik secara luas dan semakin heboh ketika seorang anak muda mendapatkan miliaran rupiah dari foto dirinya yang dipasang di NFT marketplace. Sontak semua merasa ketinggalan dan ingin terlibat di dalamnya.

Seperti yang disampaikan oleh Andrew K Przybylski pada tahun 2013, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan peristiwa seringkali terjadi dalam menyikapi berbagai hal baru terutama di dunia digital. FOMO merupakan perasaan yang meyakini setiap peristiwa merupakan kejadian yang tidak boleh dilewatkan. Sehingga proses pengambilan keputusan cenderung tergesa-gesa dan tidak melalui analisis yang matang.

25 December 2021

Metaverse - Radio Idola

 

Terkait:

19 December 2021

Ramai-Ramai Metaverse

Suara Merdeka, 18 Desember 2021


Pada saat pandemi, kita diperlihatkan berbagai percepatan adopsi teknologi dan pengembangan teknologi baru untuk manusia bekerja dan hidup di kondisi yang berbeda. Meskipun masih menginginkan untuk kembali ke masa normal sebelumnya, akhirnya banyak pihak menyadari bahwa masa normal yang saat ini sudah tidak bisa sama lagi seperti sebelumnya. Bahkan berbagai hal baru kemudian bermunculan dan memungkinkan untuk mengubah masa depan manusia, salah satunya adalah metaverse atau dunia meta yang disebut oleh Mark Zuckerberg pada saat penggantian nama perusahaannya menjadi meta.    

09 March 2021

Pentingnya Pendidikan Karakter Zaman Digital

(Kompas, Opini 8 Maret 2021)


Perlu ada literasi digital agar masyarakat semakin mampu mengolah informasi dengan benar dan berperilaku sopan. Jangan sampai karena ketidakmampuannya tersebut, membuat seluruh pengguna Indonesia dinilai tidak beradab.

Meskipun sejatinya istilah netizen atau dalam KBBI disebut warganet dipakai untuk merujuk pada pengguna internet secara umum, akhir-akhir ini terasa memiliki konotasi yang negatif. Ketika membaca komentar-komentar yang tidak nyaman di berbagai media online, seringkali ungkapan “dasar mulut netizen” spontan dikeluarkan.

Istilah netizen menjadi semakin terasa negatif, bukan hanya karena komentarnya yang pedas, tetapi juga yang dirasakan kasar, nyinyir, provokatif, memojokkan, keroyokan, dan juga menyebarkan kebohongan.

14 February 2021

Suara Merdeka untuk Generasi Kekinian

(Suara Merdeka, Halaman Utama 11 Februari 2021)

Perkembangan teknologi informasi tidak bisa dipungkiri telah banyak menggerus eksistensi media cetak di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bukan hanya karena akses informasi bisa diperoleh secara real-time melalui gadget maupun kebiasaan generasi muda yang sehari-harinya mendapatkan berbagai informasi dari gadget, tetapi juga karena cara untuk mendapatkan media cetak umumnya harus melalui berbagai perantara seperti agen koran, penjual koran, atau loper koran. Biaya kertas dan cetak yang terus naik juga menjadi perhatian tersendiri dalam biaya produksi.

Menghilangkan perantara, meminimalkan biaya, dan mempercepat proses merupakan kelebihan teknologi yang selalu disebutkan dalam rantai pasokan atau seringkali disampaikan pada saat menceritakan kisah sukses perusahaan berbasis teknologi di awal abad 21. Dalam survei AC Nielsen juga disebutkan jumlah pembaca media online di tahun 2020 sudah mencapai 6 juta orang, atau lebih banyak dibandingkan pembaca media cetak yang sebanyak 4,5 juta orang.

Beberapa tahun terakhir ini, beberapa media cetak di Indonesia juga akhirnya memutuskan berhenti atau berpindah ke dalam wujud digital. Apakah media online harus menjadi akhir dari media cetak? Apakah disrupsi digital tidak bisa dihindarkan dari media cetak? Berbagai pertanyaan ini juga muncul pada saat Suara Merdeka menginjak usianya yang ke-71.


14 January 2021

Generasi Menembus Batas

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 19 September 2020)


Berbagai cara baru di luar kebiasaan, anti-mainstream, atau kreatif- inovatif para lulusan dapat dimungkinkan berkembang ketika mereka dapat dengan cepat merespons perubahan dan melakukan transformasi


HAMPIR satu tahun ini dunia pendidikan tinggi menjalani perkuliahan daring dengan penuh dinamika. Beberapa kampus berhasil menjalaninya dengan lancar, meskipun pada awal penuh gejolak, namun banyak juga yang masih sulit beradaptasi dengan cara-cara baru karena berbagai hal. Memang, tidak semua bisa diselenggarakan untuk menggantikan cara-cara sebelumnya secara daring. Butuh perkecualian-perkecualian yang masih bisa ditoleransi oleh standar masing-masing kampus.

Namun memaksakan untuk memulai perkuliahan tatap muka secara fisik sebelum ada obat penangkalnya akan dipandang tidak bijaksana dan justru akan menciptakan risiko bagi mahasiswa, dosen, atau bahkan orang-orang yang dicintainya di rumah. Sebab, tidak ada satu pun yang tahu mobilitas masing-masing orang yang akan bertemu dalam tatap muka secara fisik. Mengumpulkan mereka dalam jumlah yang besar, akan meningkatkan risiko untuk menciptakan klaster baru penyebaran Covid-19.

Menjadi hal yang luar biasa ketika mahasiswa berhasil mengatasi berbagai kesulitannya dan bisa lulus pada masa sekarang. Meskipun banyak yang meragukan dalam hal kualitas perkuliahan, mereka yang disebut sebagai lulusan era pandemi, merupakan pemenang yang berhasil mengalahkan kondisi sulit dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang mengejutkan. Bahkan, mereka juga bisa disebut sebagai orang-orang yang kreatif karena berhasil menemukan teknik untuk menyelesaikan studinya dalam kondisi yang baru.

Ketika wisudawan lulus dalam situasi sekarang, bukan hanya membuktikan sebagai sosok-sosok istimewa karena berhasil berjuang menyelesaikan studi dengan cara yang tidak sama dengan kebiasaan pada umumnya, tetapi juga terbukti mempunyai kelincahan dan daya tahan yang baik dalam mengelola perubahan.

Praktik kelincahan ditambah dengan daya tahan dalam jangka panjang, atau dalam buku yang ditulis oleh Angela Duckworth (2016) disebut sebagai Grit, dipandang akan menjadi modal yang berharga dalam menghadapi dan membuat terobosan akan masa depan yang konstan akan perubahan.

19 September 2020

Dunia Figital Generasi Z

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 19 September 2020)




Dengan mengajak Gen-Z untuk tetap berada di kebiasaan yang sama dengan generasi sebelumnya, membuat kepekaan mereka dalam menghadapi perubahan menjadi tidak tajam atau bahkan hilang.

DALAM buku berjudul Generasi Z karya David dan Jonah Stillman (2017), generasi Z atau disingkat Gen-Z disebut-sebut sebagai penduduk asli dunia yang disebut figital (fisik dan digital). Sebutan itu karena sejak lahir mereka telah dilengkapi dengan berbagai teknologi yang memungkinkan mereka untuk menemukan kesamaan berbagai aspek fisik dalam dunia digital. Bagi Gen-Z, dunia nyata dan dunia virtual dapat saling melengkapi dan saling menggantikan. Dengan kata lain, virtual menjadi bagian dari realitas generasi ini.

Gabungan antara fisik dan digital ini telah menjadi realitas baru bagi generasi ini. Tentunya pernyataan tersebut juga bergantung pada aksesibilitas dan interaksi Gen-Z terhadap teknologi yang tersedia selama ini. Namun batas pemisah antara fisik dan digital telah terkikis. Kedua hal tersebut tidak lagi dibandingkan karena keberadaannya di dunia nyata atau di dunia digital, tetapi berdasarkan kualitas, harga atau biaya, penjelasan, ulasan, dan peringkat atau penilaian yang selama ini dipahami oleh semua generasi namun dengan simbol-simbol yang berbeda.

05 August 2020

"The Great Reset" dalam Dunia Pendidikan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 5 Agustus 2020)



Semangat untuk memberikan yang terbaik dan optimisme terus dibangun, bisa menjadi bahan bakar yang tidak pernah habis, meskipun dilanda badai pandemi

SETELAH pandemi Covid-19 menjadi berkepanjangan, para ahli menyerukan “The Great Reset” atau pengaturan ulang tatanan kehidupan yang mendasar secara masif. Istilah tersebut merupakan judul buku dari Richard Florida, seorang professor di Universitas Toronto yang kembali dibicarakan oleh Klaus Schwab, Ketua Eksekutif World Economic Forum, pada Juni lalu. Meskipun bidang yang dibicarakan di dalam forum tersebut tidak menyebutkan dunia pendidikan secara spesifik, namun kelima bidang yang ditawarkan juga ikut terkait dengan dunia pendidikan, tidak terkecuali pendidikan tinggi.

Penggunaan teknologi informasi di dalam dunia pendidikan dalam masa pandemi, telah “meruntuhkan” tembok-tembok kelas yang dulu secara fisik menegaskan bidang ilmu, tingkatan pengetahuan, waktu yang disediakan dalam belajar, atau bahkan bentuk laporan evaluasi penyelenggaraan pendidikan. Rumusan yang paling tepat dalam memberikan solusi pendidikan tidak lagi dapat dipastikan, seperti halnya ketidakpastian vaksin Covid-19 akibat kemungkinannya untuk bermutasi secara cepat.

22 June 2020

Sesat Pikir Kuliah Daring

(Kompas, Opini 22 Juni 2020)


Generalisasi kualitas pembelajaran daring sungguh berbahaya untuk kemajuan pendidikan di negeri ini. Pemerintah dan DPR harus mendorong kampus-kampus untuk berkembang lebih baik dalam melayani pendidikan bangsa kita.

Pandemi dan kuliah daring adalah dua hal yang berbeda. Hal ini jelas secara makna harfiah meski terjadi pada saat yang sama. Memang kuliah daring sangat happening saat pandemi Covid-19 tiba-tiba menerjang dunia.

Akan tetapi, bukan karena pandemi kuliah daring baru tercipta. Kegiatan pembelajaran di dalamnya tidak bisa suka-suka ditentukan sendiri, apalagi ala kadarnya karena sejak bertahun-tahun yang lalu sudah berkembang aktivitasnya. Kualitas pembelajaran tetap harus maksimal, bahkan dengan usaha yang lebih, meski kita menyadari situasi saat ini tidak mudah.

Progresivitas Dunia Pendidikan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 22 Juni 2020)


Meskipun pandemi Covid-19 bukan hal yang patut disyukuri, namun sesungguhnya menciptakan sisi positif yang bisa direfleksikan.

AKIBAT pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, Unika Soegijapranata akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakan wisuda daring seperti kampus lainnya. Wisuda yang disebut sebagai selebrasi virtual ini menggunakan teknologi animasi deteksi wajah (face-tracking animation). Meskipun pemanfaatan teknologi ini bukan hal yang asing dalam dunia perfilman Hollywood, inovasi ini baru pertama kali terjadi dalam wisuda di Indonesia, bahkan di dunia.

Hampir setiap hari muncul berbagai tawaran webinar yang bisa diikuti tanpa berbayar. Berbagai keahlian dan wawasan haru secara serempak dibagikan dalam seminar-seminar daring tersebut. Fenomena ini seperti melihat semua tokoh dan ahli keluar dari sarangnya. Banyak masyarakat yang mendapatkan manfaatnya dan acara-acara tersebut secara rutin. Sebuah kreativitas dan kebiasaan yang mungkin belum dilakukan sebelumnya pada masa normal, bahkan di institusi pendidikan sekalipun.

05 June 2020

Pembelajaran Daring untuk New Normal

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 4 Juni 2020)


"Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas"

SKENARIO New Normal (kenormalan baru) yang disiapkan oleh pemerintah beserta tahapan-tahapan pemulihan aktivitas di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, menyiratkan akan adanya pembukaan kembali sekolah dan kampus dalam waktu dekat. Banyak pihak sebetulnya juga telah berharap bisa segera beraktivitas normal, meskipun juga di sisi lain tidak menginginkan ada peningkatan penyebaran Covid-19 seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Jerman.

Praktik pelaksanaannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan dan tidak mungkin sama dengan sebelum masa pandemi. Apalagi kita juga tahu, belum ada vaksin yang benar-benar terbukti mampu menyembuhkan dari Covid-19, selain stamina dan peningkatan imun tubuh. Jadi, penerapan protokol kesehatan seperti menjaga jarak aman, mengenakan masker, dan mencuci tangan menjadi syarat dalam kondisi kenormalan baru yang akan diterapkan.
Dalam berbagai infografik kenormalan baru, bidang pendidikan dirancang untuk mulai dibuka pada tahapan ketiga melalui penerapan protokol kesehatan yang ketat dengan mengatur kehadiran siswa secara bergiliran, agar syarat jarak aman dan kapasitas ruang dapat terpenuhi. Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas. Pertama, kapasitas kelas dimungkinkan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya karena jarak antarsiswa akan mengurangi kapasitas kelas pada umumnya. Konsekuensinya adalah biaya penyelenggaraan setiap kelas akan menjadi lebih besar dari sebelumnya, karena jumlah pengajar maupun ruang mengalami peningkatan. Sekolah atau kampus yang telah lama menerapkan kelas dalam jumlah kecil, tentu akan lebih mudah dan diuntungkan dalam situasi ini.

12 May 2020

Gamifikasi Pembelajaran Daring

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 12 Mei 2020)


HARUS diakui, mulai muncul ungkapan kebosanan dari banyak orang yang menjalani pembelajaran daring, setelah hampir mendekati dua bulan ini. Namun bukankah ini juga dialami di dalam perkuliahan tatap muka ketika kelas tidak berhasil terbentuk kemistrinya, antara pendidik dan peserta didiknya? Pembelajaran daring bukan hanya bicara tentang infrastruktur digital semata, melainkan juga teknik penyampaian materi yang tepat maupun yang sesuai dengan karakter pendidik dan siswanya. Ada seorang guru yang pandai merangkai cerita pengalamannya pada masa yang lalu, sehingga siswanya tidak pernah merasa bosan mendengarnya setiap kali bertemu, bahkan siswa merasa mendapatkan wawasan baru. Namun ada guru yang sama-sama menceritakan masa lalu, tetapi siswanya tidak merasa terbantu bahkan muncul perasaan jemu setiap kali mendengar cerita sang guru.
Di sisi lain, ada juga guru yang dengan penguasaan berbagai teknologi, namun justru membuat siswa merasa terbebani. Namun ada juga guru yang sama-sama menguasai berbagai teknologi, tetapi berhasil membangkitkan hasrat dan motivasi siswanya setiap kali bertemu. Keduanya merupakan contoh keahlian yang sama-sama memanfaatkan kekayaan pengalaman pribadi maupun kekayaan penguasaan teknologi. Cerita masa lalu yang terceritakan ke siswa bukan hanya disampaikan dengan penuh semangat, namun dikemas dalam plot cerita menginspirasi, sehingga mampu menarik perhatian dan fokus siswa.
Begitu juga dengan teknologi, tidak semata-mata soal demonstrasi kehebatan penguasaan teknologi atau bahkan yang viral dan terbaru, namun kemampuan mengemas teknologi dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi siswa. Lain lagi dengan penugasan saat pembelajaran. Pada awal-awal masa pembelajaran daring, banyak siswa mengeluhkan terlalu banyak tugas yang diberikan oleh guru pada saat pembelajaran daring, bahkan sering hanya tugas dalam setiap kali pertemuan. Hal ini menyebabkan kesan pembelajaran daring menjadi tidak menyenangkan akibat banyak pendidik yang hanya memberi tugas tanpa ada penjelasan. Akibatnya secara ekstrem mereka akan menyukai guru atau proses pembelajaran yang meniadakan penugasan.

11 May 2020

Bisa Manggung di Media Sosial


(Tribun Jateng, News Analysis, 11 Mei 2020)

SEJAK pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, berbagai aktivitas masyarakat terpaksa berhenti. Wayang Orang Ngesti Pandawa yang biasanya tampil setiap Sabtu jam 20.00 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) menghibur masyarakat Semarang dan sekitarnya akhirnya juga memutuskan untuk berhenti, mengikuti Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah tanggal 14 Maret 2020 tentang Peningkatan Status Kewaspadaan Terhadap Risiko Penularan Infeksi COVID di Jateng.
Kondisi ini tentunya menyulitkan bagi para seniman yang menggantungkan hidupnya pada dunia pertunjukan kesenian seperti Wayang Orang. Namun di sisi lain, kondisi ini dapat menciptakan peluang bagi Ngesti Pandawa untuk menghibur kalangan yang lebih luas lagi. Modal yang terpenting untuk menghadapi kondisi ini adalah mereka tidak boleh putus asa dan tetap bersemangat menyalurkan kecintaannya pada dunia kesenian, meskipun tidak lagi bisa di atas panggung.
Pertunjukan dalam bentuk digital yang saat ini telah mulai banyak di media sosial memang menjadi solusi kebuntuan penyaluran bakat dan aspirasi seni di tempat publik. Bahkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga ikut mendukung dengan memberikan insentif kepada seniman yang menghasilkan karya dengan syarat lokasi tampil di rumah saja dan jumlah seniman yang terlibat dibatasi sampai tiga orang saja. Insentif ini cukup mendorong para seniman untuk bergerak keluar dari zona nyaman, yaitu belajar teknologi audio visual, meskipun dengan peralatan gawai yang sederhana. Ngesti Pandawa dengan laskar mudanya juga bergerak ke arah yang sama dan bertransformasi dengan tetap melibatkan seniman-seniman senior di dalamnya. Beberapa seniman yang mempunyai kemampuan dalam hal merekam dan video editing secara otodidak, mulai mengkonversikan pertunjukan yang sebelumnya di panggung ke dalam bentuk video. Tentunya dengan mematuhi protokol untuk physical dan social distancing.

03 April 2020

Normalitas Baru Pembelajaran Daring

(Tribun Jateng, Opini 3 April 2020)


Oleh: Prof. Dr. F. Ridwan Sanjaya, MS.IEC, Rektor dan Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata

DALAM beberapa tahun terakhir ini, manusia dihadapkan dalam berbagai disrupsi yang terjadi di hampir semua bidang kehidupannya. Awalnya dianggap sebagai kekacauan (chaos) namun pada akhirnya menjadi normalitas baru (new normality) yang dianggap biasa dan dijalani menjadi kebiasaan baru. Hal ini juga kita lihat pada dunia pendidikan pada saat dunia diterpa wabah Covid-19. Banyak sekolah yang sebelumnya cukup nyaman dengan pembelajaran tatap muka dibuat kocar-kacir tidak berdaya karena tidak pernah menyiapkan rencana cadangan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, salah satunya ketika sekolah dipaksa tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Berbagai reaksi muncul dalam menyikapi hal tersebut, ada yang langsung siap mengalihkan menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring), ada yang baru bergegas mempersiapkan infstruktur, ada pula yang mencari-cari cara yang cepat dan mudah untuk menyampaikan materi ke anak-anak didiknya, atau bahkan ada yang hanya sekedar memberi tugas secara beruntun seperti tidak pernah ada akhirnya. Namun hal ini terpaksa dilakukan sebab berdiam dan tidak melakukan apa-apa justru resikonya lebih besar.

02 April 2020

Kuliah Daring, Jangan Repot

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 2 April 2020)


"Diskusi bisa bersifat real-time maupun dengan rentang waktu tertentu. Sehingga, evaluasi pembelajaran dapat dilakukan secara tepat meskipun dengan kondisi terbatas."

KONDISI saat ini tentu tidak pernah kita harapkan. Tak heran banyak rencana tiba-tiba berubah atau bahkan ditiadakan. Kadangkala rencana cadangan juga tidak pernah disiapkan karena tidak terbayangkan sebelumnya. Hal ini dialami oleh beberapa sekolah dan kampus yang mendadak pindah ke pembelajaran daring. Sebab untuk melanjutkan ke pembelajaran tatap muka sangat tidak dimungkinkan.

Beberapa sekolah dan kampus yang telah mempersiapkan pembelajaran daring sejak lama, tentu saat ini menghadapi kejutan dan kenyataan bahwa mahasiswa membutuhkan kuota internet secara masif untuk mengikuti kuliah daring secara massal.
Bagi pemilik infrastruktur pembelajaran daring juga akan dikejutkan dengan lonjakan beban akses dari dosen dan mahasiswa pada saat kuliah bersama-sama. Namun hal ini jauh lebih beruntung dibandingkan dengan sekolah dan kampus yang tidak memiliki infrastruktur atau perencanaan sebelumnya.
Beberapa kampus berhasil mengajak kerja sama operator-operator telepon seluler skala besar untuk mendukung kebutuhan kuota internet yang tidak biasa, dengan cara menambahkan kuota gratis rata-rata sebesar 30 gigabyte (GB) untuk satu bulan melalui program Corporate social responsibility (CSR).

14 December 2019

Ketika Gelar Tidak Menjamin

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 14 Desember 2019)


BEBERAPA waktu yang lalu Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, dan masuk kelas tidak menjamin belajar.
Meski banyak pihak memperdebatkan, pernyataan ini bukanlah hal baru karena pandangan ini pernah tersampaikan dalam Tajuk Rencana Suara Merdeka 4 Desember 2017 di mana perusahaan skala global seperti Google telah memutuskan tak lagi mensyaratkan ijazah untuk bergabung. Tentu ada pengalaman yang melatarbelakanginya.